BAB 2 " TRUE LOVE"
Liburan panjang semester kedua dimulai, hal yang paling
ditunggu-tunggu oleh para siswa, karena bagi mereka liburan adalah menghentikan
sejenak pelajaran yang melilit mereka dan melepas beban karena banyak tugas.Mungkin
semua siswa pada berlibur entah pergi ke rumah nenek, pergi ke tempat wisata
atau diam saja dirumah.Tidak dengan Steven, dia sedang menunggu mamanya dirumah
sakit.Sudah seminggu mamanya dirawat di rumah sakit akibat penyakit sesak napas yang dideritanya selama 2 tahun lebih. Steven
selalu menjaganya dengan kasih sayang, apapun yang beliau inginkan ia penuhi.
Siang malam tak henti-hentinya ia menunggu di rumah sakit.
“Steven, ..Steven,.. !”panggil
mamanya dengan suaranya lirih dan
lemas yang sedang terbaring ditempat tidur.
“Mama, ada apa Ma? Mama mau
apa? Makan?Minum?”jawab Steven penuh perhatian yang saat itu ada disamping
tempat tidur mamanya.
“Tidak sayang, mama mau tanya
Papa kemana?”
“Itu, tadi Papa keluar sebentar
tebus obat di Apotek.”kata Steven bohong
“Owch iya…!”
“Ma, mama makan dulu ya?Ini
Steven tadi beli bubur ayam. Mama makan ya?”pinta Steven sambil mengambil bubur
ayam yang letaknya di meja kecil sebelah tempat tidur mamanya.
“Ndak ah sayang, mulut mama
terasa pahit dan mama sudah kenyang.”
“Tapi Ma, mama dari tadi pagi
belum makan. Kalau mama gak makan gimana mama mau cepet sembuh. Mama makan ya?!
Steven mohon.”pinta Steven lagi
“Ehm, ya sudah. Mama mau
makan.”
“Ini ma,..!”kata Steven senang.
Sedikit demi sedikit Steven menyuapi mamanya dengan
ketelatenan dan rasa pedulinya. Steven hanya menahan rasa sedihnya, ia tidak
mengatakan sejujurnya. Bahwa Papanya tidak pergi ke Apotek.Steven tak tahu
Papanya pergi entah kemana sejak kemarin malam.Dalam hatinya ia berkata,
“Maafin aku Ma, Steven berbohong sama Mama tentang Papa. Ini semua demi
kesembuhan Mama.” Waktu pun bergulir dengan cepat, akhirnya mamanya pulang ke
rumah dan suasana rumah pun kembali seperti biasanya. Suasana di rumahnya
kembali ramai, mamanya sudah kembali pulih , Steven yang selalu tak mau ngalah
sama kakaknya dan masih banyak lagi.
Sudah hampir dua minggu ia tak
berkomunikasi dengan Juminten. Akibat peristiwa pementasan drama musical pada
ulang tahun sekolah mereka. Sampai sekarang Steven tak mau meminta maaf atas
kesalahannya, ia masih bersikukuh dengan perkataannya bahwa dia tak bersalah.
Hari ini ia akan mencoba untuk sms Juminten. Ia sangat merindukan sosok
Juminten. Setiap ada kesusahan Jumintenlah yang selalu ada disampingnya,
menemaninya dan selalu menghiburnya.Steven sms berkali-kali tak kunjung di
balas oleh Juminten.Ia galau… Merenung sendiri di kamar dengan wajah melas
seperti orang yang baru saja dipecat dari kerjaannya.Berbaring di atas tempat
tidur, melihat langit-langit kamar dan memikirkan sesuatu.
“Aduh , kenapa sih Juminten gak
mau balas sms aku? Apa dia masih marah ya?? Aku galau tanpamu”katanya
Waktu pun bergulir, libur semester sudah berakhir.Tahun
ajaran baru pun dimulai. Semu serba baru, kelas baru, buku , tas, sepatu baru,
teman baru kecuali wajah tetap yang lama. Steven dan teman-temannya yang lama
tetap satu kelas, ia juga tetap satu kelas sama Juminten. hanya saja kelasnya
berubah.Mulailah para siswa disibukkan lagi oleh tugas-tugas yang menumpuk,
ulangan-ulangan dan kesibukan lainnya.Begitu juga dengan Steven, paginya
dimulai seperti biasanya.Berangkat sekolah dengan mobil merah kesukaannya.
“Hari ini sudah masuk sekolah,
aku akan ketemu lagi dengan Juminten.Moga dia sudah tak marah lagi sama
aku!”pinta dalam hati
Sesampainya di sekolah, ia langsung menuju kelas barunya
yaitu kelas XII yang terletak di depan kantin bersebelahan dengan rung OSIS. Di
perjalanan, ia tak sengaja melihat Juminten lagi duduk di taman bangku sekolah
yang sedang asyik membaca buku. Steven pun
menghampirinya dan duduk disebelahnya.
“Hai… lagiapa??tanya
Steven
Juminten pun hanya diam tak menghiraukan dan dia terus
membaca bukunya.Ia masih kecewa dan marah akan kejadian waktu drama musical
tersebut.
“Hai, kamu kok diam saja??Kamu
masih marah ya?Ya deh, aku minta maaf.”kata Steven melas
“Hemm!” ucap Juminten, ia
berdiri dan pergi meninggalkan Steven sendirian. Ia tak menanggapi apa yang
dikatakan Steven.
“Eh, kamu mau kemana?Ehmm, dia
masih marah.Apa aku salah ya? Aku harus minta maaf.”katanya sungguh-sungguh.
Di sisi lain ada Dimas yang melihat Juminten dan Steven
sejak tadi. Ia pun menghampiri Steven.
“Cie yang lagi marahan ya.
Kasihan banget sih ??”kata Dimas
“Ngapain kamu kesini!”kata Steven
ketus
“Gimana rasanya dicuekin, sakit
kan? Makanya intropeksi diri.Sifat kamu itu loh gak pernah berubah.Gak
bertanggung jawab lagi, buktinya kamu malah gak datang dalam pementasan drama
kemarin, untung saja kita bisa atasin.”
“Eh, masudmu apa bilang kayak
gitu?”
“Fikir saja sendiri!Kamu kan
pintar, masak gitu saja tak tau!”kata Dimas sambil tersenyum sinis
Dimas pun meninggalkan Steven, Steven hanya terdiam
membisu. Ia berfikir, memang perbuatannya salah. “Apa yang dikatakan Dimas
memang benar, aku tak bertanggung jawab, karena aku mereka hampir saja malu.
Aku juga buat Juminten kecewa.”kata Steven dalam hati. Ia bertekad untuk
meminta maaf pada Juminten.
Jam pelajaran pun dimulai, Steven hanya memandang Juminten
yang duduk didepan bangku guru. Ia tak putus memperhatikan Juminten, dari
kejauhan.
“Eh, Jum kamu dilihatin sama
Steven terus tuh!”kata Mila teman sebangku Juminten yang dari tadi
memperhatikan Steven.
“Iya ta?!Biarin saja.”kata
Juminten cuek
“Aku perhatikan, kayaknya dia
menyesal deh. Lebih baik kamu maafin
dia?”
“Udah ah, jangan urus dia. Aku
udah terlanjur kecewa. ”
“Tapi…!!”
“Udah, itu loh Pak Irwan mau
jelasin sesuatu.”
“Anak-anak, bapak ada
pengumuman buat kalian bahwa ada olimpiade kimia, matematika dan fisika tingkat
Provensi yang akan diadakan di Universitas Indonesia. Yang mau berminat
silahkan daftar ke bapak.”kata Pak irwan
Semua siswa berantusias untuk ikut olimpiade tersebut.
“Pak, itu langsung tes di UI
?Atau gimana?”tanya Rizal
“Begini, nanti akan diseleksi
terlebih dahulu di sekolah, semua boleh ikut seleksi tersebut. Nanti akan
dipilih satu untuk perwakilan dari sekolah kita. Mengerti?”
“Owch iya.. !”
“Apa ada pertanyaan lagi
anak-anak?”
Disisi lain
“Jum, kamu ikut ya? Kamu kan
pintar dalam matematika? Pasti kamu bisa lolos seleksi dan mewakili sekolah
kita?”saran Mila teman sebangku Juminten
“Eh, gimana ya??Aku tuh gak
begitu yakin.”jawab Juminten ragu.
“Ayo kamu pasti bisa.Aku selalu
mendukungmu.Ikut ya?Aku juga ikut kok tapi yang Fisikanya.Nanti kita bisa
belajar bareng”kata Mila yakin.
“Emmmm, iya deh aku ikut!.”
“Hehehe, bagus..!”kata Mila
senang
“Owh, iya anak-anak seleksinya
akan di mulai tanggal 15 , 16, 17 Februari 2010. Untuk tesnya dilakukan di
ruang Multimedia.Owch iya, Steven kamu bapak pilih, untuk ikut olimpiade kimia,
tanpa tes.Jadi kamu langsung ikut ya?”
“Emm, Iya pak!” kata Steven
senang
“Wah, hebat kamu di pilih
langsung, tanpa ikut seleksi!”puji Rizal
“Ya iyalah, aku gitu.Aku kan
udah pasti terpilih.”ujar
Steven belagu
Bel istirahat berbunyi, semua siswa pada istirahat.Juminten
dan teman-temannya lagi asyik ngobrol di bangku kantin dekat pohon beringin
yang rindang.Semilir angin yang sejuk menambah suasana tambah seru.Hanya Steven
yang tak ada, teman-temannya menjauhinya, begitu juga dengan Juminten.
“Eh, temen-temen mau beli apa?
Biar aku yang belikan heheheh, aku traktir semuanya”tanya Rizal yang pada hari
itu berulang tahun.
“Ciye…ciye yang lagi ulang
tahun.Selamat ulang tahun ya!?”ucap Susi
“Asyik guys, dapat makanan
gratis. Perut kenyang, kantong pun tebal.Hehehehe!”sahut Doni
“Iya, mumpung aku lagi baik
hati aku traktir. Jadi pesan apa?
“Aku mie ayam saja!”kata Dimas
“Yang lain?”tanya Rizal lagi
“Sama semua deh..!”kata Mila
“Eh, Aku Bakso saja, gak pakai
mei putih, mie kuning, kuahnya dikit saja, gak pakai saus cuma kecap sama
sambal, sambalnya yang banyak , gorengannya nambah dan pakai krupuk juga.”sahut
Niken
“Hadeh, oke-oke aku pesan dulu
ya.!”
Pesanan pun sudah datang, mereka menyantapnya dengan lahab,
apalagi Niken.Dia antusias banget makan Bakso yang super duper pedas, sampai
wajahnya terlihat merah merona seperti babi yang siap dipanggang. Mereka
bercanda, , bermain, bercerita, ngobrol pokoknya asyik. Saat mereka lagi asyik,
tiba-tiba muncul Steven yang ingin bergabung.
“Hai, boleh gabung ndak?” tanya
Steven. Mereka tiba-tiba terdiam membisu.Ekspresi tak suka mereka munculkan.
“Don, Zal, ayo kita pergi dari
sini. Suasananya menjadi gak enak.!”kata Dimas
“Tapi… Ini,..!”ujar Rizal
“Udahlah,..!
Satu persatu dari mereka
pergi.Mereka tak suka dengan Steven, tertinggal hanya Juminten.
“Hai, Empuss!”sapa Steven.
Juminten hanya terdiam dan tak menghiraukannya.
“Ehm, mereka kenapa ya? Kok
semuanya pada pergi ?”tanya Steven
“Pikir saja sendiri.Ya udah,
aku sibuk.”kata Juminten pergi meninggalkan Steven.
Steven hanya terdiam, dengan wajah sedih tak percaya akan
merasakan hal itu. Ia dijauhin pacar dan
teman-temannya. Ia merasa kesepian , hanya ada angin dan pohon yang menemaninya
saat itu.terdiam dan terdiam. Di sisi lain, dari kejauhan ada Juminten yang
memperhatikannya. Dalam hatinya ia berkata, “Maafkan aku Steven, aku ngejauhin
kamu. Aku terlanjur kecewa . Mungkin dengan aku menjauh darimu, kamu bisa
menyadari akan sikapmu itu dan mau berubah. Aku percaya suatu saat nanti, kamu
pasti bisa berubah.” Juminten merasa sedih, kasihan melihat Steven sendirian. Tapi, ia melakukan ini agar
dia mau berubah.
Steven selain jago pelajaran kimia, dia juga jago main
basket. Keahliannya itu membuat dia menjadi anggota regu dalam tim inti basket
sekolah. Sepulang sekolah, ia berlatih basket dengan anggota lainnya. Tapi kali
ini, karena moodnya gak enak. Ia tak mau latihan, ia hanya duduk manis di pinggir lapangan. Sedangkan
anggota lainnya berlatih dengan giat. Kak Reno melihat Steven yang
santai-santai dan ia pun menghampiri Steven.
“Eh, Steven .Latihan dong, kok
kamu malah santai-santai saja. Kau tau kan , bulan depan kita ada turnamen
basket. Harusnya kamu berlatih dengan giat malah santai-santai.”tegur kak Reno
yang merupakan captain dari tim basket. Tubuhnya yang tinggi, wajahnya yang
tampan, keahlian basketnya yang hebat membuat dia menjadi idola di sekolah itu.
“Ah, aku lagi malas dan bete’.
Jangan ganggu aku !”kata Steven
“Tapi, kamu itu kan pemain
inti. Kalau kamu masih gak mau latihan,
Aku akan cari anggota lain untuk ganti kamu. Kamu mau?” kata Kak Reno
jengkel
“Ganti saja yang lain, aku gak
peduli! Udah, jangan ganggu aku.”kata Steven cuek
“Ya udah kalau gitu.”ujar Kak
Reno jengkel dan langsung meninggalkannya.
Sepulangnya dari latihan basket, Steven tak langsung
pulang.Ia mampir ke supermarket untuk membeli makanan Marsella. Di perjalanan
ke supermarket, ia tak sengaja melihat papanya dengan seorang gadis yang
seumuran dengannya, berambut pendek sebahu dengan pakaian rok mini di depan
hotel .Mereka berpelukan mesra. Rasa
marah melihatnya, ia langsung menghentikan mobilnya. Ia turun dan langsung menghampiri papanya.
“Papa…!”panggil Steven dengan
nada keras
Papa Steven pun terkejut, ia langsung melepaskan
pelukannya. Gadis itu pun, langsung pergi meninggalkan mereka.
“Papa, papa sedang ngapain
dengan gadis itudi hotel ini??”tanya Steven kesal
“Emmm, itu..itu.. owch ya tadi
itu client papa!”jawab Papa gugup
“Papa bohong, kalau itu client
papa.Kenapa papa pelukan dengan orang itu, terlihat mesra pula!”
“Apa sih kamu itu, nuduh-nuduh
papa seperti itu.Jangan ikut campur urusan Papa.Urusanmu itu, Cuma sekolah!”
“Papa itu kenapa sih jadi kayak
gini. Papa tau kan mama lagi sakit. Papa malah selingkuh dengan orang itu. Papa
itu gak kasihan apa sama Mama. Mama begitu sayang sama Papa. Tapia apa, papa
malah seperti ini. Dasar Papa gak punya hati,!”ucap Steven marah
Plakkkk, tangan kasar itu menampar pipi kanan Steven yang
putih itu .
“Jaga ucapan kamu itu!Sudahlah,
jangan urusin urusan Papa.Ngerti kamu?”kata Papa marah
Dengan tamparan itu, Steven
langsung pergi.Ia sangat marah dan kecewa terhadap kelakuan Papanya. Ia
melampiaskan kemarahannya dengan mengendarai mobil merahnya dengan kecepatan
tinggi. Sesampainya di rumh, ia langsung nyelonong masuk.
“Steven, Steven.. !”panggil Kak
Dika. Steven pun tak menghiraukan panggilan kakaknya.Ia langsung ke kamarnya
dengan wajah marah dan brakkk menutup pintu kamarnya dengan keras.
“Aaaaaaaahhhhhhhh, aku benci
dengan semuanya! Kenapa ini semua terjadi padaku? .”teriak Steven sambil
mengobrak-abrik kamarnya. Meja belajar dan tempat tidurnya berantakan, vas
bunga pecah , semua barang-barangnya jatuh ke lantai. Hal tersebut, terdengar
oleh kakaknya.Ia pun langsung pergi ke kamar untuk mengechek keaadaan.
“Steven, kamu tuh
kenapa?Berantakin semuanya, kalau gila jangan disini.”ucap Kak Dika
“Iya Kak, Steven sudah gila.
Steven sudah tak waras lagi.”jawab Steven marah
“Kamu tu, kenapa?Ada masalah?
Cerita ke kakak, siapa tau kakak bisa bantu.”
“Udalah Kak, Steven ingin
sendiri.”
“Ya sudah kakak pergi. Tapi, kamu jangan kayak gini
lagi.”
Steven hanya mengangguk.Steven hanya terdiam di kamarnya.
Ia tidak makan, tidak minum dari siang
sampai malam. Baginya, hidup ini sudah tak adil lagi.Ia bagai menahan
beban ratusan kilogram masalah dalam pundaknya. Ia berbaring, menatap langit-langit
kamarnya. Melihat Steven belum makan, Mamanya menghampirinya dengan membawa
susu dan makanan yang ditaruh di atas nampan putih. Diketuklah pintu coklat
itu….
“Steven,,… Steven… Sayang mama
masuk ya?” panggil mamanya
Tak ada jawaban, Steven tetap terdiam membisu.
“Steven sayang,… kamu kenapa?
Ayo makan ya sayang, dari tadi pagi kamu belum makan ?ini mama sudah bawa’in
makanan dan susu. Mama suapin ya!”kata mama yang duduk di sebelah Steven
“Steven, gak lapar Ma!”
“Kamu kenapa sih sayang? Ehm,
kalau ada masalah bicara sama mama, jangan disimpan sendirian. ”
“Gak ada apa-apa kok Ma!”kata
Steven tersenyum dan mulai bangkit dari tempat tidurnya dan duduk disebelah
mamanya.
“Kalau kamu gak ada apa-apa,
kamu makan ya? Mama suapin deh!”
“Gak ah Ma, Steven beneran gak
lapar.Tadi juga sudah makan di sekolah.”
“Itu kan tadi, kamu makan ya
sayang. Kalau kamu gak mau makan, nanti kamu sakit. Mama khawatir sayang.”pinta
Mama melas
“Ehm, ya sudah Steven mau
makan!Tapi mama juga makan ya, nanti gantian Steven yang nyuapin mama.”kata
Steven
“Iya sayangku… !”jawab mama
tersenyum
Mamanya pun menyuapin Steven, dengan wajah yang lega dan
senang.Steven mengunyah makanan itu dan memperhatikan wajah mamanya yang
tersenyum pada saat itu. Dalam benaknya ia berkata, “Ma, aku sayang banget sama
mama. Aku senang jika mama bisa Jika mama tau tentang papa, apa mama bisa tetap
tersenyum seperti ini? Aku gak mau melihat mama sedih.”
“Eh, Steven..Kamu kenapa
memandangi mama seperti itu.Apa ada yang salah dengan wajah mama?”ucap mama
penasaran sambil memegang wajahnya
“Ada yang salah Ma, dengan
wajah Mama.”kata Steven
“Loh emang kenapa sama wajah
Mama??Bedaknya terlalu tebal ya?”
“ Salahnya, Wajah Mama cantik
banget. Apalagi kalau tersenyum tambah kelihatan lebih muda.”rayu Steven
tersenyum
“Ahh, Anak Mama satu ini. Bisa
saja buat mamanya malu!”
“Ma?”
“Hem, Apa Steven?”
“ Mama, Mama janji ya, gak akan
pernah ninggalin Steven sendirian!”
“Kenapa kamu bicara seperti
itu?Tanpa kamu meminta.Mama akan selalu ada disamping kamu!”kata Mama tersenyum
“Makasih Ma, Mama sudah jadi
Mama paling baik sedunia! Aku sayang Mama”kata Steven sambil memeluknya dengan
erat.
“Mama juga sayang Steven!”
Keesokkan harinya, seperti biasa pergi kesekolah.Di meja
makan sudah tersedia berbagai jenis makanan. Ada roti , nasi goreng , buah, susu
dan masih banyak lagi yang disiapkan oleh Mamanya. Dimeja tersebut ada Kak Dika, Mama dan
Papanya serta juga ada Marsella. Turunlah Steven dari kamarnya, ia bersiap-siap
untuk bersekolah. Namun, setibanya dimeja makan.Ia tak makan dan langsung pergi
ke sekolah.
“Steven sayang, kamu gak makan
dulu?”tanya mama
“Gak Ma, Steven sudah gak
lapar. Suasana disini gak enak apalagi ada…!”kata Steven sambil melirik sinis
papanya yang sedang makan.
“Huk…huk..!”Papanya tersedak.
“Ini Pa, minum dulu!”kata Mama
sambil mengambilkan segelas air.
“Ada siapa? Ada kakak”tanya Kak
Dika
“Enggak kok Kak!Gak ada
siapa-siapa.Ya sudah Ma, Kak aku pergi dulu.”ucap Steven sambil bersalaman
dengan mamanya.
“Steven, kamu gak salaman sama
Papa?”tanya Mama
Steven tak menghiraukan, ia tetap berjalan ke depan dan
pergi ke sekolah, ia masih marah kepada Papanya itu. Setibanya di sekolah, ia
merasa sendiri, wajahnya sedih, tak berbicara satu kata pun. waktu gurunya
mengajar, ia tak begitu memperhatikan. Kepalanya tidur di atas meja, Ia bengong,
raganya di kelas tapi pikirannya kemana-mana. Ia masih tak percaya bahwa Papa
nya bisa melakukan hal seperti itu. Di sisi lain, Juminten memperhatikannya, ia
bertanya-tanya dalam benaknya, ada apa dengan
Steven? Kenapa dia hari ini tak nampak
seperti biasanya? Apa dia ada masalah? Atau dia lagi sakit?.Pertanyaan itulah
yang ada dalam benaknya. Juminten begitu khawatir, ia tetap terus
memperhatikannya.
“Jum…Jum..!”panggil Mila.
Juminten pun tak mendengarkannya, ia tetap memperhatikan Steven.
“Jum…!” panggil Mila lagi
dengan nada keras
“Eh, apa? Ada apa? Aku disuruh
maju ya?”jawab Juminten gelagapan
“Ndak kok, Kamu kenapa?Kamu
lagi lihatin Steven?Ciye?”ejek Mila
“Em Apa’an sih?Gak kok.”
“Alah, Jawab saja dengan
jujur.Gak usah pakai bohong.”
“Em ya deh, aku memang lagi
memperhatikan Steven. Dia kenapa ya, kok wajahnya pucat dan kayak sedih gitu?
Apa dia ada masalah? Atau dia lagi sakit?”
“Ciye,..yang lagi perhatiaan
nie !”
“Apa’an sih!”kata Juminten agak
marah
“Iya deh maaf, ya menurutku sih
lebih baik kamu tanya saja sama dia. Kamu hibur dia, buat dia tersenyum
lagi.”nasihat Mila
“Emmmm, gimana ya?? Gak ah, aku
kan lagi marah sama dia. Masak tiba-tiba care sama dia.”
“Tapi, dia kelihatan tidak
sehat loh.Kamu gak kasihan?”
“Ehmm, udah ah jangan bahas itu
lagi.”
Sementara itu, Mama Steven hendak mencuci baju.Ia
membereskan baju yang sudah kotor. Tak sengaja melihat, pakaian suaminya ada
bercak merah di bagian lengannya.Bercak merah itu seperti bercak lipstick yang
berbentuk bibir. Mamanya terkejut, dan ia langsung menanyakannya pada suaminya
yang lagi duduk di teras depan rumah sambil minum kopi dan baca Koran.
“Papa, ini apa Pa? kok seperti
bercak lipstick?”tanya Mama heran
“Emmm, itu ,.. itu ..emmm,
itu..!”
“Jawab Pa..Ini apa?”
“Emmm, itu..itu kena saos
kemarin malam. Ya itu kena saos!”jawab Papa gugup
“Gak mungkin ini saos, ini
lipstick kan Pa? jawab dengan bubur Pa? eh maksudku jujur Pa?”
“Emm , bukan itu bukan
lipstick!”kata Papa masih menyangkal
“Kalau ini bukan lipstick tapi
saos.Kenapa bercak saus ini seperti bibir?”
“Emmm, itu..itu..!”
“Jawab Pa! Apa jangan-jangan
ini bekas ciuman wanita? Jadi Papa selingkuhin Mama?”kata Mama dengan nada
tinggi
“Kasih tau gak ya??”jawab Papa
bercanda
“Pa, gak usah bercanda. Mama
serius!”
“Papa dua rius malahan!”
“Papa…! Jawab Pa , gak usah
mengalihkan pembicaraan. Papa gak selingkuh kan?”
“Ma, Papa gak selingkuh.
Percaya sama Papa. Papa sangat mencintai mama mana mungkin Papa selingkuh.”
“Papa gak berbohong kan? Terus
ini tadi apa Pa?”
“Gak Ma, itu Cuma saos kok!
Mama harus percaya sama Papa ya? Papa sayang banget sama Mama”kata Papa sambil
memeluk Mama
“Hu’um Pa, Mama sayang Papa!”
Meskipun begitu, Mamamasih ragu. Ia tak percaya apa yang
dikatakan oleh Papa. Ia akan mengikuti suaminya kemana pun ia pergi dengan
sembunyi-sembunyi. Waktu itu, Papanya pergi tanpa memberitahu kemana ia pergi.
Mama langsung mengikutinya. Berjam-jam ia ikuti, mengitari sebuah kota kecil di
daerah Jakarta utara. Sampai akhirnya mobil Papa berhenti pada sebuah rumah
sederhana, berwarna putih biru, berpagar dan terlihat sepi.Papa turun dan pergi
kerumah itu, seperti ada seseorang yang ingin ditemuinya. Diketuklah pintu biru
itu, perlahan pintu itu dibuka dan keluarlah gadis berambut pendek sebahu itu,
ia menyambutnya dengan centil dan mesra. Begitu pun dengan Papa , ia
menanggapinya dengan mesra. Ketika melihat itu semua, Mama terkejut, marah,
sedih bercampur aduk rasa yang tak menentu. Ia langsung melabraknya.
“Papa, ternyata Papa selingkuh.
Mama kecewa sama Papa!”
“Hah Mama……!”kata Papa terkejut
sontak melepaskan pelukanya
“Papa bohong, Papa telah
selingkuh.Papa gak punya perasaan.”
“Diam kamu, Ya memang benar Papa
selingkuh. Papa sudah bosen sama Mama. Papa butuh sosok yang baru. Papa muak
sama Mama.”
“Papa tega melakukan ini semua.
Mama sayang sama Papa, tapi Papa seperti ini.”katanya sambil menangis
“Biarin, Papa sudah bosen sama
Mama. Ayo kita pergi sayang, kita tinggalkan wanita tua ini!”kata Papa sambil
membawa gadis itu pergi
“Papa, jangan tinggalin Mama
Pa..Papa , papa..!”panggil Mama meronta-ronta dengan napas tersengal-sengal.
Papa tak meghiraukan, ia tetap pergi dengan selingkuhannya
itu, tak mempunyai rasa bersalah. Tiba-tiba napas Mama sesak , dipegang dada dengan erat, ia
tak mampu untuk mengatakan satu kata pun, sesaknya semakin menjadi. Akhirnya ia
jatuh pinsan.Masyarakat sekitar langsung membawanya pergi ke rumah
sakit.Sementara itu disekolah, Steven lagi duduk sendiri di bawah pohon beringin
samping kelasnya, dengan wajah sedih dan melamun.Datanglah Juminten yang ingin
menghiburnya.
“Hai..!”sapa Juminten
“Ehh, hai juga!
“Boleh aku duduk disini”
“Owch iya silahkan,..!”
“Emmm, lagi apa?”
“Lagi santai saja!”
“Owch”
Ditengah obrolan mereka, tiba-tiba datanglah guru BK yang
mengabarkan bahwa Mamanya masuk rumah sakit.Steven langsung pergi ke Rumah
sakit. Setibanya disana , Mamanya sedang diperiksa dan masuk ruang ICU.
“Kak, gimana keadaan Mama Kak?Kenapa
ini bisa terjadi?tanya Steven kepada Kak Dika yang saat itu sudah berada disana
terlebih dahulu.
“Aku juga gak tau, dokter belum
keluar dari ruang ICU.Papa lagi kemana sih, tak telfon gak diangkat-angkat.”jawab
kak Dika bingung
“Papa gak mungkin datang, ia
kan gak peduli sama Mama.”
“Hah, maksudmu apa bicara
seperti itu?”
“Kak, ada sesuatu hal yang
harus kakak tau.Waktu aku pulang sekolah, aku lihat Papa pelukan sama seorang
cewek di hotel.”
“Apa?Apa kamu yakin?”
“Iya Kak, aku belum cerita ini
sama Mama. Aku takut Mama nanti shock, Kakak janji ya jangan bilang sama Mama.”
“Jadi Papa seperti itu, Kenapa
Dia tega melakukan itu.Awas saja kalau ketemu, biar aku hajar dia.”ujar Kak
Dika marah
Keluarlah dokter dari ruang ICU itu, wajahnya kelihatan
menyesal .
“Dokter, gimana Dok keadaan
mama saya?”tanya Steven panic
“Hmm, maaf sekali dik, Mama
kalian tak bisa kami selamatkan.”
“Apa? Gak-gak mungkin, dokter pasti bercanda kan?”kata Steven tak
percaya.
“Maafkan saya, ini sudah
menjadi takdir yang Kuasa.”
“Apa kami bisa melihatnya
Dok?”tanya Kak Dika
“Silahkan,..!
Steven pun langsung berlari ke ruangan ICU tersebut.Tergeletaklah jazat wanita yang sangat dicintainya.Ia terbujur kaku, tak bernyawa. Wajahnya pucat, tangannya dingin. Steven hanya menangis histeris, ia tak percaya bahwa Mamanya sudah tiada.
Steven pun langsung berlari ke ruangan ICU tersebut.Tergeletaklah jazat wanita yang sangat dicintainya.Ia terbujur kaku, tak bernyawa. Wajahnya pucat, tangannya dingin. Steven hanya menangis histeris, ia tak percaya bahwa Mamanya sudah tiada.
“Mama, Ma..bangun Ma. Steven
ada disini??Disamping Mama.”
“Sudahlah Steven, kita harus
tetap tegar”kata Kak Dika
“Enggak Kak, Mama gak boleh
pergi meninggalkan kita. Ma, bangun Ma.
Mamakan sudah janji, bahwa Mama gak akan pernah meninggalkan Steven sendirian.
Ma, bangun Ma. Steven sayang sama Mama. Mama sayang Steven kan? Kalau Mama
sayang Steven, Mama
bangun.”
“Steven, sudah, sudah. Biarkan
Mama pergi dengan tenang!”
“Aku sayang sama Mama, Mama
jangan pergi, jangan pergi…”kata Steven meronta-ronta
Pemakaman jenazah pun sudah dilakukan, Papa Steven tak
datang.Ia malah bersenang-senang dengan selingkuhannya. Steven seperti terjatuh
dan tertimpan tangga pula. Sudah dijauhin sama teman-temannya, Mamanya
meninggal, Papanya tak pedulikannya. Keluargnya pun terbengkalai, suasana
rumahnya sepi.Hanya ada dia dan kakaknya.Ia merasa bahwa hidupnya sudah
berakhir. Ia sendirian, tak ada seorang
pun yang ada disampinnya.
Malam
menjelang datang, suasana dirumah Steven sepi, sunyi seperti tak bernyawa.
Wajah Mama yang tak terlihat lagi olehnya, tangan lembut hangatnya , senyuman
penyemangatnya tak dapat lagi ia rasakan, kangen akan bawelnya, nasihatnya,
kasih sayang yang tulus itulah yang dirasakan oleh Steven. Ia mengurung diri di
kamarnya.
“Ma, mama sekarang lagi
ngapain? Mama senang gak disana? Aku
harap mama senang disana, ada Tuhan yang selalu melindungi Mama. Ma, Steven
disini kangen sama Mama. Mama kangen gak sama Steven?”ucap Steven menangis
sambil memandang foto Mamanya.
Sementara itu , mendengar bahwa Mama Steven meninggal.
Juminten pergi ke rumah Steven.Setibanya disana, hanya terlihat kakaknya di
ruang tamu.
“Permisi, Kak, Kak Dika?”
“Eh, ada Juminten.Ada
apa?”tanya Kak Dika
“ Emm, saya turut berduka cita
Kak, maaf baru bisa datang sekarang.”jawab Juminten
“Owch iya gak apa-apa
kok.Makasih, kamu mau datang.”
“Emmm, Stevennya dimana Kak?
Kok gak kelihatan”
“ Em, dia ada di kamarnya, dari
semalem ia belum makan, ia hanya mengurung diri dikamarnya. Kakak sedih
melihatnya.”
“ Emm, bolehkah saya
melihatnya?”
“Oh iya, mari saya antarkan ke
kamarnya.”
(Setiba di kamar Steven)
“Steven… Steven…. Ini ada
Juminten yang ingin bertemu.”panggil Kak Dika
Tak ada jawaban dari dalam kamar.Juminten pun semakin
khawatir melihat keadaan Steven.
“Kak Biar aku saja yang panggil!”
“Owch iya”
“ Steven … Steven… Ini aku
Juminten.Bolehkah aku masuk? Steven.. Steven..”
“Kak bilang ke Juminten.Aku
lagi ingin sendiri.”kata Steven
“Tapi Steven, dia ingin ketemu
dengan kamu …!”kata Kak Dika
“Udahlah Kak, mungkin Steven
ingin sendiri. Ya udah Kak, lebih baik aku pulang dulu.Makasih ya Kak!”
Pagi mulai menghampiri, sinar mentari jatuh semu pada
setiap rumah di bumi, yang membawa sinar kehidupan.Berbeda di rumah Steven,
yang tak ada kehidupan di dalamnya.Rumahnya tampak kotor, berantakan, seperti
tak terawat lagi. Steven berangkat sekolah dengan badan lemas , tak berdaya,
matanya lebam akibat semalam menangis. Dimeja makan , tak ada makanan yang
tersedia. Kakaknya tak menghiraukan Steven, ia sibuk dengan urusannya.
Setibanya di sekolah, iatetap termenung, tak banyak bicara. Ia juga gak begitu
merespon mata pelajaran pada waktu itu. Sampai istirahat dimulai, ia hanya
berdiam diri di taman belakang. Juminten yang merasa kasihan, ia pun mencoba
menghiburnya.
“Hai Steven!”sapa Juminten
Namun Steven tak menjawab, ia tetap terdiam. “Bolehkah aku
duduk sini?”.Steven hanya terdiam, pandangannya kosong.
“mmm, suasana disini sunyi,
sejuk, rindang. Udaranya juga segar. Memang enak berada disini. Iyakan Steven??
Ehm, Steven kamu baik-baik saja kan?”tanya Juminten khawatir
“Kenapa kamu tiba-tiba
peduli?”jawab Steven
“Ehm, Aku sangat mengkhawatirkanmu.Aku takut kamu kenapa-kenapa. Kamu
baik-baik saja kan? Aku turut berduka atas meninggalnya Mama kamu.”
“Owch iya , terima kasih.”
“Emmm, Owch iya. Kamu pasti
belum makan kan, aku bawa sesuatu buat kamu. Ini dia nasi goreng
kesukaanmu.”ujar Juminten sambil memberikan kotak nasi tersebut.
Steven hanya memandanginya dengan tatapan tajam setajam
silet.Ia terlihat begitu sedih. Ya, mengingat Mamanya dulu yang sukanya membuat
nasi goreng kesukaannya.Tanpa terasa, air mata membasahi pipi putihnya itu.
Ma,… Ma…Mama..!”katanya lirih.
“Kamu kenapa?Makan ya, ini enak
loh!”
Tiba-tiba iya membuang kotak
nasi itu ke tanah.Pyarrr, jatuhlahkotak itu, berceceran nasi yang enak itu ke
tanah.Juminten pun kaget melihatnya.
“Apa yang kamu lakukan??”tanya
Juminten sambil membersihkan puing-puing nasi yang ditanah
“Sudahlah, gak usah bawakan aku
makanan seperti itu.”
“Hah, itu kan makanan
kesukaanmu.”
“Sudahlah, jangan pernah
pedulikan aku lagi.Pergi kamu dari sini. Aku gak butuh dikasihani”Ujar Steven
marah
“Tapi, aku..!”
“Sudah, kalau kamu gak mau
pergi, biar aku yang pergi.”Ia pun pergi meninggalkan Juminten sendiri.Iamenangis,
tak percaya Steven yang dikenalnya berubah 100 derajat. Hatinya terasa sakit,
seperti disayat-sayat dengan garpu tala selama 12 hari, 12 jam, 12 menit, 12
detik. Meskipun seperti itu , ia akan tetap menghibur, mengubah Steven dengan
segala cara, rumus agar Steven kembali seperti yang dulu lagi.Ia berjanji akan
hal itu.
Sepulang sekolah, wajahnya
seperti biasa murung, murung dan murung.Ia menyetir dengan pelan sekali, semut
saja menang. Ia berencana ke makam Mamanya, sebelum ke makam ia membeli bunga.
Ia berhenti di toko bunga, terlihat banyak aneka ragam jenis bunga di toko itu,
aromanya harum, terlihat segar dan berwarna-warni .Steven membeli bunga lili
kesukaan Mamanya. Bunga itu selalu ada di kamar Mamanya, katanya bunga itu bisa
buat hati Mama terasa tenang dan penyemangatnya.
Kemudian ia menuju makam
Mamanya. Sesampainya disana, dengan hati senang ia berjalan menyusuri beberapa
Makam.
“Siang Ma! Mama lagi apa? Mama,
ehm aku punya hadiah loh buat Mama, Mama tau tidak apa hadiahnya? Pasti gak tau
ya, ini Ma!. Bunga Lili, bunga kesukaan
Mama. Bunganya masih segar dan baru saja Steven beli. Aku taruh disamping ya
Ma.”kata Steven
Sejenak ia membersikan makam Mamanya itu, dengan senang ,
penuh kasih sayang ia membersihkannya.
“Udah bersih deh, kalau gini
Mama pasti akan lebih nyaman. Iya kan Ma? .Owch iya Ma, aku punya kabar bagus
Ma.Aku terpilih menjadi wakil sekolah untuk ajang Olimpiade sains tingkat
Provensi Ma.Aku senang banget Ma. Aku jadi ingat dulu, waktu aku kecil , aku
ikut lomba menyanyi. Mama dukung aku dengan penuh semangat. Mama yang
mengajariku menyanyi, yang tadinya suaraku cempreng jadi bagus hehehe. Ma,
Steven kangen sama Mama. Dulu saat Steven sendiri, Mama selalu menghibur
Steven, Mama yang bisa membuat Steven kembali tersenyum. Sekarang Steven
sendiri Ma. Papa sudah gak peduli lagi sama aku dan kakak dan kak Dika sekarang, sudah sibuk dengan
urusannya. Steven benar-benar merasa sendiri. Aku kangen sama Mama. Tak ada
lagi sosok Mama disampingku.”kata Steven menangis sambil memeluk makam ibunya.
Waktu mulai larut, Steven sudah berjam-jam berada di makam
Mamanya. Akhirnya ia pulang, rasa rindunya sedikit demi sedikit telah terobati.
Sesampainya di rumah, suasana ramai.Terdengar pertengkaran hebat didalam
rumahnya.Steven segara masuk dalam rumahnya itu.Terlihat Kakaknya sedang beradu
mulut dengan Papanya.
“Papa… Apa maksud Papa? Dia itu
adik aku Pa. Papa kenapa bisa berbicara seperti itu?”tanya Kak Dika
“Eh, asal kau tau.Adikmu itu
bukan adik kandungmu. Mama samaPapa dulu memungutnya di depan rumah.Tak tau
anak siapa dia itu, tak jelas identitasnya.”jawab Papa dengan tak
mempedulikannya
“Gak Pa, itu gak mungkin. Papa
bohong kan? Kenapa Papa dan Mama dulu merahasiakannya dari kami. Kalau Steven
tau , perasaannya gimana?”
Steven yang dari tadi mendengar percakapan itu, ia
terkejut. Bahwa dia bukan Anak kandung dari keluarga itu.
“Apa maksud kalian?”sahut
Steven
“Hah, Steven.Kamu sudah
pulang?Darimana saja? Kakak khawatir loh.!”kata Kak Dika
“Udahlah Kak, Kakak gak usah
mengalihkan pembicaraan. Papa, Apabenar yang Papa katakana tadi kalau aku bukan
anak kandung Papa sama Mama?”tanya steven.
“Owch kamu sudah dengar ya
ternyata, Ya kamu memang bukan anak kandungku.!”
“Jangan dengarkan dia Steven,
dia berkata bohong. Kamu itu anak kadung Mama sama Papa, kamu juga adikku.
Jangan hiraukan dia. Papa, Dika minta Papa pergi dari sini.”kata Kak Dika marah
“Eh, tanpa kamu minta. Papa
juga akan pergi dari rumah ini. Lagian Papa kemari itu, Cuma mau ambil
barang-barang Papa.”kata Papa pergi
“Iya, Papa pergi sana gak usah
kembali lagi.”ujar Kak Dika marah
Steven masih terdiam, ia tak menyangka. Ia hanya terkejut
dan tak mampu berkata apa-apa. Hatinya lebih hancur seperti kota Hirosima dan
Nagasaki yang di bom atom oleh sekutu. Hancur bekeping-keping.
“Steven, kamu tak apa-apa kan?
Jangan pernah dengar kata Papa ya.Kamu tetap anak kandung dari keluarga
ini.”kata Kak Dika menenangkannya
“Gak, Aku harus tanya lebih
jelas ke Papa. Ya, aku harus tanya .”kata Steven buru-buru mengejar Papanya.
“Steven,…Steven… jangan kejar
Papa.Semua yang dibicarakannya itu bohong.”
Steven pun berlari untuk mengejar Papanya yang mau naik
taxi.
“Papa … Papa tunggu Pa!”panggil
Steven
“Ada apa sih?”jawab Papa
“Pa, Apa benar aku bukan anak
kandung Papa sama Mama?”
“Aduh , Papa tadi itu sudah
bilang kan. Kamu itu bukan anak kandung Papa.Udah Papa harus pergi, ganggu
saja.”
“Tunggu Pa, terus siapa ayah
dan ibu kandungku Pa? dimana mereka?”
“Mana saya tahu, itu bukan
urusanku.Udah Papa harus pergi.”ujarnya pergi naik taxi
“Apa? Jadi aku benar bukan anak
kandung Mama sama Papa. Tuhan apa salahku? Kenapa kau menghukumku seberat ini?”
Awan berubah menjadi mendung, petir menyambar dengan suara
dasyatnya itu. Rintik-rintik air hujan turun membasahi seluruh kota itu.
Semakin deras air hujan itu. Steven hanya menangis dan ia duduk terdiam membisu
membiarkan air hujan menguyur tubuhnya itu. Lama kemudian , ia memutuskan pergi
ke makam Mamanya.
“Ma, Mama kenapa selama ini gak
jujur sama Steven? Kenapa Mama gak mengatakan bahwa Steven bukan anak kandung
Mama? Heh kenapa Ma?Steven ini anak siapa Ma?Hati Steven sakit banget Ma.Aku
sedih banget, kenapa ini terjadi padaku?Apa salahku? Kenapa aku harus merasakan
hal sepedih ini?”katanya merintih dan duduk di sebelah makam Mamanya
Sementara itu, Juminten datang ke rumah Steven.Ia masih terus
berusaha untuk menghiburnya. Tapi sayang Steven tak ada di rumahnya.Kak Dika
menceritakan semua kejadian malam itu pada Juminten.Ia langsung menuju ke Makam
Mama Steven. Ia tahu bahwa Steven pasti ada disana, karena setiap hari ia
diam-diam mengikuti Steven. Hujan semakin deras, petir menyambar dengan
kerasnya.Juminten semakin khawatir, takut terjadi apa-apa terhadap Steven.
“Ma, Steven capek Ma. Steven
ingin ikut Mama. Steven kangen sama Mama. Aku harus berbuat apa Ma?.”ucap
Steven memeluk makam Mamanya
Berhentilah mobil Juminten.Ia langsung menghampiri Steven
dengan membawa payung kuning bergaris - garis merah. Ia berjalan menyusuri
makam demi makam dengan diam-diam. Sampailah ia disebelah Steven. Ia memayungi
Steven , tanpa Steven sadari.Ia melepaskan pelukannya, ia akhirnya menyadari
ada seseorang
yang disampingnya.
“Juminten….!”ucap Steven sambil
berdiri terus memandangi Juminten dengan berkaca-kaca di matanya
“Steven….!”kata Juminten seraya
ikut memandang balik wajah Steven. Ia tahu pasti hatinya hancur mendengar kalau
ia bukan anak kandung Mamanya, Mama yang selalu ia sayangi dan cintai.
“Apa kau baik-baik saja?”tanya
Juminten
Steven hanya terdiam. Tiba-tiba ia memeluk Juminten dengan
erat dan menangis dipelukan itu.
“Kau pasti lelah kan?”tanya Juminten
“Iya, sedikit!”jawab Steven
tetap memeluknya dengan erat.
“Aku mengerti, apa yang kamu
rasakan!Menangislah jika itu membuatmu merasa lebih baik.”kataJuminten sambil
menepuk-nepuk punggung Steven
Ia menangis begitu derasnya.
Rasa sedihnya ia keluarkan sepenuhnya. Rasa sedihnya sedikit demi sedikit
hilang.Malam pun semakin larut.Hujan pun sudah tak mengeluarkan air matanya.
“Sudahlah, ayo kita
pulang.Kakakmu sudah khawatir.”kata Juminten
“Iya!”
Akhirnya Steven pulang.Hatinya sedikit merasa lega.Juminten
telah berhasil menyuruhnya pulang.Keesokkan harinya, tepat di hari minggu.Semua
sekolah pada libur.Hari minggu dimana semua anak pada istirahat untuk
menenangkan sejenak fikirannya terhadap pelajaran.Pagi-pagi sekali Juminten
pergi kerumah Steven. Dimana ia membawa banyak makanan dan minuman yang ditaruh
di garasi mobil. Juminten mengajak Steven ke suatu tempat.Tempat yang bisa
membuat kita merasa senang.
“Kita mau kemana?”tanya Steven
“Sudahlah, pasti kamu akan
merasa jauh lebih baik.Ikut saja!”jawab Juminten tersenyum
Tibalah mereka di rumah agak besar. Didepannya terdapan
tamanyang luas ditumbuhi banyak aneka macam bunga. Disitu juga terdengar
suara-suara anak-anak kecil yang sedang asyik bermain ayunan, petak umpet dan
lain-lain.Dengan senangnya mereka bermain.Ya, panti asuhan yang mereka berdua
kunjungi.
“Kamu lihat mereka. Mereka
begitu senang bermain kan?.Mereka seperti tak mempunyai beban dalam hidup
mereka.Padahal dalam hati kecil mereka, pasti mereka sangat merindukan orang
tua, kasih sayangnya.Tapi mereka tetap semangat dalam menjalani hidup ini.
Begitu juga yang harus kamu lakukan , tetaplah semangat dan raih semua
impianmu. Jika kamu berhasil, pasti Mama kamu disana bangga sama kamu.”kata
Juminten sambil memandangi mereka dari kejauhan.
“Iya, kamu memang benar.
Melihat keceriaan mereka, membuatku ikut senang”kata Steven tersenyum
“Kakak …!”teriak Deva seorang
anak berambut hitam, berkulit putih dan mempunyai lesung pipi di sebelah kanan.
Ia berusia 5 tahun. Ia tak mampu untuk berjalan sejak lahir. Kursi rodalah yang
menjadi kaki buatnya.
“Owch Deva, gimana kabarnya sayang? Lama kakak gak
berkunjung kesini.”jawab Juminten sambil jongkok mengelus-elus rambutnya dengan
penuh perhatian
“ Deva baik-baik saja kakak
cantik. Deva kan kuat.”
“Hehehe, eh ini kakak kenalin
sama teman kakak. Namanya kak Steven.”
“Hai Deva….. Aku kak
Steven.”kata Steven tersenyum
“Hai Kak Steven! Aku Deva.Ehm,
Kak Steven lagi sedih ya? Kok mukanya terlihat sedih, jangan sedih kak nanti
gantengnya hilang loh! ”canda Deva
“Deva, kamu masih kecil. Tapi
kamu bisa membuat Kakak tersadar akan suatu hal. Deva, kakak gak sedih kok, malah kakak senang bisa ketemu dan kenalan
sama Deva, anak yang kuat.”
“ Owch, iya dong Deva.Kakak
cantik?? Ayo main lempar bola sama Deva. Ayo Kak!”ajak Deva
“Ah Deva gak asyik, masak yang
diajak cumin kakak cantik, aku gak diajak?Aku marah loh!”tanya Steven kesal
“Kak Steven marah, nanti cepat
tua loh!.Kakak juga boleh ikut kok!”kata Deva
“Nah gitu dong!”kata Steven
senang
Mereka begembira bersama, melepaskan sejenak beban mereka.Terlihat
kegembiraan luar biasa, tak terlihat kesedihan pun dalam benak Steven.Malam pun
tiba, waktunya Steven dan Juminten pulang. Sebelum pulang ke rumah mereka
berhenti membeli es krim dan duduk ditaman dekat panti asuhan tersebut
.Hembusan angin malam membuat suasana terlihat romantis.Rembulan mulai
terlihat, udara malam yang dingin.
“Heem, dingin ya?Hmmmmm!”kata
Juminten sambil mengosok kedua tangannya
“Em, ini pakai jaketku!”kata
Steven sambil memakaikan jaketnya
“Makasih ya!”
“Juminten,…..!”
“Ada apa?”
“Makasih ya, untuk hari
ini.Kamu sudah membuat aku merasa senang.”kata Steven tersenyum
“Iya sama-sama.Kamu senang, aku
juga ikut senang. Jadi apapun masalah yang kita hadapi , jangan pernah berputus
asa. Tetap semangat dan sabar dalam
menjalaninya. Oke… ganbatte!”ujar Juminten penuh semangat.
“Hehehehe, . .Makasih ya, kamu
selalu ada buatku!”kata Steven sambil tiba-tiba memeluk Juminten.
“Heem, aku akan selalu ada
untukmu.!”jawab Juminten tersenyum
“Juminten….!”
“Heem..!”
“Dapatkah aku benar-benar
menjadi kuat?Apakah aku bisa menerima semua ini?”
“Kamu sudah kuat, kamu mampu
bertahan.Hanya saja kamu tak menyadarinya.Tetap semangat, apapun yang terjadi,
kamu tak perlu takut. Aku selalu ada disisimu”
Steven tersenyum lega, ia mempunyai seseorang yang begitu
perhatian dan sayang terhadapnya. Ia mulai menyadari, ia harus tetap semangat
dalam menjalankan hidupnya.
“Juminten, aku minta maaf
ya!”ucap Steven sambil melepas pelukannya
“Minta maaf, buat apa?”tanya
Juminten heran
“Ya, saat pementasan drama
musical.Aku datang terlambat, aku mengecewakan semuanya.Maafkan aku ya?”
“ Owch masalah itu? Mmmmmm,
Maafin enggak… Maafin Enggak… Maafin enggak…!”kata Juminten sambil ngitung kancing bajunya
“Maafin ya?Aku benar-banar
menyesal. Aku akan merubah semua sikap burukku itu. Aku janji mau bertanggung
jawab.”kata Steven memelas
“Mmm, sebetulnya itu
permasalahan yang sulit.Aku tak yakin bisa maafkanmu?Maafin gak ya?”kata
Juminten berfikir sambil menaruh telunjuk tangannya ke arah dagu.
“Ayo maafin dong, aku janji
besok aku juga akan meminta maaf ke teman-teman semuanya.”
“Hemmm, Iya aku maafin kok.Dari
dulu aku sudah memaafkanmu.”ujar Juminten tersenyum
“Hah beneran ? Makasih empussku….!”
“Sama-sama Dophiku…!”jawab
Juminten tersenyum siphu.
“Empuss, coba kamu lihat
bintang dan bulan yang disana? ”(menunjuk bintang dan bulan dilangit)
“ Iya, emang kenapa?”
“Mmmm, disitu ada banyak sekali
bintang bahkan berjuta-juta bintang.Dan bintang tersebut selalu berada di sisi
bulan. Tapi lihat bintang kecil itu, iayang terdekat dan paling bersinar dari
semuanya.Kamu tau apa artinya?”
“ Ehmmm, enggak tahu. Emang apa
artinya? ”kata Juminten bingung
“Begini, kamu aku ibaratkan
bintang kecil itu dan aku sebagai bulanya.”
“Loh kok bisa begitu?”
“Iya, karena kamu selalu ada
disamping aku ,saat aku sendiri, sedih, maupun bahagia. Serta saat aku dijauhin
teman-teman dan kamu selalu menyemangatiku, selalu bisa buat aku tersenyum.
Makasih sekali lagi.!”
“Emmmm, aku melakukan itu semua
karena aku sayang sama kamu, aku peduli.!”
“Akujuga sayang sama kamu.”
Malam menjelang larut, mereka memutuskan untuk pulang
kerumah.Keesokkan harinya, Steven sudah mulai kembali sepeti dulu.Ia sudah tak
bersedih lagi. Ia memulai hidup barunya tanpa Mama yang ada disisinya lagi. Iabersemangat
untuk sekolah. Sikapnya yang dulu sombong, pelit , angkuh, tak bertanggung
jawab sedikit demi sedikit hilang. Hidupnya sekarang berubah 180◦ . Hidupnya penuh dengan kakak, teman dan kekasih yang sayang
padanya. Setiap hari sepulang sekolah, ia selalu mengunjungi makam mamanya.
“Mama, Ma aku senang sekali.
Hidupku sudah tak sendirian lagi, semua temanku sudah mau menerimaku .Mereka
mau berteman denganku lagi. Dan juminten ia selalu ada untukku, ia yang membuat
aku tersadar atas semua ini. Andai mama ada disini, pasti kehidupanku bertambah
lengkap.”kata Steven
“Sudahlah, meskipun Mamamu
tidak ada disini ,tapi beliau selalu ada dihatimu..!”sahut Juminten tersenyum
“Iya, beliau adalah Mama
terbaik didunia ini.!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar