Selasa, 28 Oktober 2014


BETTER THAN BEFORE

BAB 1 (MARSELLA)

Mentari pagi mulai memunculkan sinarnya, hembusan angin pagi yang dingin menyentuh kulit-kulit yang ada disekujur tubuh.Kehijauan mulai terlihat disisi kabut putih bening yang mengelilinginya.Mulai bermunculan aktivitas manusia dari berangkat sekolah sampai pergi untuk bekerja.Begitu juga dengan Steven, anak cowok dari keuarga kaya raya didaerahnya.Ia sangat mencintai keluarganya terutama mamanya. Ia akan melakukan apa saja yang mamanya mau, karena ia mempunyai prinsip  bahwa ibunya yang nomer 1.
Paginya dimulai seperti biasanya, yaitu memanggil Marsella.
“ Marsella….marsella….marsella sayang… ?????!!!” panggilnya dengan penuh kasih sayang.
          Lima menit kemudian, Marsella tetap saja tak mau menampakan dirinya.
“ Marsella,… Marsella kamu dimana??? Kamu tidak mau ini… ayo keluar sayang.!!???” Panggilnya lagi sambil membawa semangkuk kecil berisikan makanan berwarna coklat dan susu.
          Akhirnya, Marsella pun keluar dengan berlari-lari kecil mengelilingi Steven berwajahkan manja dan iamengeluskan kepalanya dan badannya yang berbulu putih bersih kearah kaki Steven. Ya, kucing kesayangannya.
“ Owc,… Marsella ku yang cantik, ini makan yang banyak ya!” ucap Steven
          Steven mulai berkemas untuk pergi ke sekolah .Sekolah favorit di Jakarta Selatan yang terletak disebelah barat rumahnya yang berjarak sekitar 8 km.
“Steven…. Steven…. Steven… sarapan dulu sayang, ini mama sudah buatkan nasi goreng kesukaanmu. Ayo cepat turun, sayang????!!” teriak mama
“Iya ma….!!”
          Dengan begitu kerennya, Steven turun tangga dengan seragam putih abu-abu rapi dan bersih dengan memakai sepatu putih kesukaannya.
“ Hai ma, !!” peluk dan cium Steven
“ mmmm, anakku yang tampan ini. Ayo duduk sini dan makan sana, mama udah buatin nasi goring special telur mata sapi.”
“Iya dong ma, aku kan anak mama yang paling tampan, dari pada itu…tu ….”ejek Steven dan memandang kea rah lain.
“ Eh, maksud kamu aku…. ??!!!” ucap Dika , kakak satu-satunya Steven yang paling keren satu sekolahan kata pacarnya. 
“ Udah nyadarkan, hehehehe !!”
“ Eh, meskipun aku kayak gini, banyak yang ngevens di sekolah dan lagian aku kan ketua OSIS . dari pada kamu , gak jadi apa-apa.” Ejek Dika tidak mau kalah.
“ Biarin saja, yang penting aku tetep paling keren, wek !!!!!” ketus Steven
“ Udah, jangan bertengkar lagi ! ayo makan, udah siang ini.” Sahut mamanya
“ Itu tuh Kak Dika,… ehm, owch iya ma, papa mana? Kok tidak ikut sarapan.” kata Steven heran
“ Owch Papa tadi berangkat pagi-pagi, katanya ada urusan mendadak.”
“Owch….!!!!!!!”
          Beberapa menit kemudian, waktu sudah menunujukkan pukul 06.30 WIB.
“ Ya udah ma, kak. Steven berangkat  duluan ya, Ma! Dah mama, kakak ….!”
“ owch iya sayang, hati-hati ya!!”
          Steven berangkat ke sekolah dengan mobil merah kesayangannya yang dibelikan oleh papanya di Amerika pada waktu ulang tahunnya yang ke-17 tahun.
Sesampainya dikelas yang bersih, ber-AC, mempunyai fasilitas yang lengkap sebagaimana sekolah elit di Jakarta Selatan.teman-temannya lagi sibuk mengerjakn PR kimia. Tapi ia biasa saja, ya maklum ia sudah mengerjakannya tadi malam dan Steven juga pintar dalam pelajaran kimia. Ia langsung membuka laptopnya dan main game.
“ Steven , PR kimia mu sudah?” tanya Mila seorang gadis berambut pendek yang gemar sekali menyanyikan semua genre musik
“ Udah !!”
“ Kalau begitu, ajarin aku  dong! Soal nomer 3 sulit.”
“ Itu loh mudah, masak kamu tidak bisa.”
“ Ya, bagi kamu mudah tapi sulit bagiku. Ayo ajarin aku dong!”
“ Kemarin kan sudah dijelasin sama gurunya, masak masih tidak bisa??!!”
“ Ya, aku gak nyambung. Ajarin ya??”
“ Sorry, aku sibuk!” ucap Steven cuek sambil asyaik maen game di laptopnya

          Mila pun pergi meninggalkan Steven yang pelit itu. Di sudut lain, datanglah seorang gadis sederhana, berkulit putih , berambut panjang, lurus terikat menjadi dua, mata bulat , alis tipis dan bulu mata yang tebal dan lenting terbalik. Gadis yang selalu diimpikan setiap siswa yang ada disekolah tersebut.Ia bernama Juminten. Ia langsung menghampiri Steven.
“ Hai, Steven aku mau tanya, PR kimia yang nomer 3  itu gimana??? Dicari KSP nya dulu atau langsung masukinnya???” tanya Juminten dengan mengeluarkan buku kimianya.
“ Ya , seperti itu !”
“ Gimana sih, ajarin aku dong!! Ini soal sulit.Aku kemarin udah nyoba mengerjakan, tapi tetap saja tidak ketemu jawabannya.”jelas Juminten
“ Aduh, gitu saja tidak bisa . itu dicari Kspnya dulu.”
“ owch, terus habis ketemu Ksp nya, itu diapain lagi?”
“ Aduh aku lagi sibuk nie…!!”
“ Ya udah kalau gitu!” katanya jengkel dan langsung  meninggalkan Steven yang tetap asyik main game.
          Disisi lain, Mila juga marah melihat sikap Steven yang cuek dan tidak mau mengajarinya.
“ Dasar pelit, minta ajarin saja, gak mau. Huh..! Dasar Pelit.”gerutu Mila
“Eh, kenapa Mil??Lagi mikirin aku ya?”tanya Dimas, anak laki-laki yang hobinya bercanda dan pemberani dalam bersikap.
“ Gak tuh PD banget, Itu tuh, Steven . Minta ajarin cara kimia aja, gak mau. Malah dia asyik main game.Dasar pelit tuh anak!”kata Mila kesal.
“ Eh, kan kamu sudah tau, dari dulu anak itu kayak gimana? Lihat pacarnya saja Juminten, sama dia dicuekin. ehm, emang anak itu…” ucap Dimas sambil memandang ke arah Steven
“Iya, sampai kasihan aku lihat Juminten. Dia itu kan cantik, pinter, baik kok mau sama Steven. Aneh!”
“ Iya, mending sama aku.. hehehehe!”
“ Ehm, Dasar kamu tuh ! Mana mau Juminten sama kamu hehhehe.”ejek Mila
“ Gini-gini aku tampan tau. Kau tau , aku tuh pernah foto sama artis Cristian ronaldo pemain sepak takrol”kata Dimas percaya diri
“ Sepak bola kali? ”kata Mila membenarkan
“Owch iya, sepak bola. Aku juga main bola sama dia”
“Kalau benar ketemu dimana ?”
“Ehmmm, dalam mimpi!.”
“hhhhhhh, Ada-ada saja kamu, Iya deh terserah kamu, aku pikir Steven mau berubah.”
“ Anak itu bisa berubah !! Gak mungkin!” ucap Dimas sambil tersenyum licik.
“Sudah, kok kita malah ngegosip sih, PR kimianya kan belum selesai.”
“Ini gara-gara kamu sih… !!”
“ Aku? Kamu !”
“ Kamu!”
“Kamu,..!”
“Stooooopppppppp kalian berduaaaaaaaaaa!”sahut Niken yang duduk disebelah mereka, ia anak paling alay dikelas setelah dimas, ia juga paling pintar berbicara alias cerewet.
“ hhehehehe!!”
“Eh, kenapa kalian berisik sih. Aku kan lagi belajar, terganggu tau. Kalau kalian tetap berisik, aku gak bisa ngerjain tugas, terus aku bisa kena marah, terus gurunya bakal menghukum aku untuk berdiri dilapangan hormat ke tiang bendera terus aku pingsan , aku sakit dan aku… Tidakkkk!”ujar Niken dengan sikap alaynya.
“Stoooooooooooooppppppp nikeeeeeen, udah Mila kita lanjutin ngerjain PRnya.”sahut Dimas gergetan
(Mila hanya nyengir dan Niken tersenyum aneh)
          Banyak temen-temen Steven yang tak menyukai akan sikap Steven yang seperti itu. Mereka semua mulai menjauh dari Steven agar  Steven berubah  dan menyadari kalau sikapnya itu salah. Tapi sampai sekarang sikapnya tidak pernah berubah.
          Bel pelajaran pun berbunyi (kriiiiiinnnngggggggggg), pelajaran kimia pun dimulai.Masuklah guru kimia yang paling ditakuti di sekolahan itu.
“ Pagi anak-anak!”
“Pagi pak,….”
“ PR kalian sudah apa sudah dikerjakan? Adakah nomer yang sulit?”
“ Itu Pak, nomer 3.”sahut Juminten
  Oke, apa ada yang bisa nomer 3? Hmmmm, Steven kamu bisa?”
“ Bisa Pak!”
“ Ya, kerjakan di depan!”
“ Baik, Pak!!”
          Waktu pun bergulir, pelajaran kimia pun selesai.
“Anak-anak, untuk PR nya paket halaman 12 sampai 14 ya!”
“Iya, Pak!”
“ Ya, sudah kalian boleh istirahat.”
          Istirahat pun dimulai, waktu dimana anak-anak melepaskan sejenak kelelahan dalam belajar.Ada yang makan, minum, bermain dan pergi ke Perpustakaan. Begitu juga dengan Juminten, ia sering pergi ke  Perpus saat jam istirahat. Ya, kegemarannya adalah membaca novel.Novel tentang perjuangan yang paling disukainya. Kira-kira lebih dari 50 novel yang sudah ia baca. Dan kali ini, ia membaca novel “Petualanganku”. Helai demi helai dengan seksama ia baca tanpa tertinggal satu pun. Lagi asyik membaca, datanglah Steven.
“Hai empuss, lagi ngapain??”tanya Steven sambil tersenyum.
“ Lagi baca !”jawab Juminten jute’
“ Baca novel apa?”
“Surat Kecil untuk Tuhan!.”
“ Kamu kok gitu sih jawabnya, nanti imutnya hilang loh empuss!”gombal Steven
“Biarin saja!”
“Ehm, kamu marah ya??Soal tadi ya!”
“Enggak tuh!!
“Ya, maaf deh soal yang tadi.Aku cuekkin kamu.”
“ Ihh, ngapain kamu disini. Ganggu aja!”
“ Empuss imut, aku janji deh. Aku tidak lagi mengulang itu lagi.Maafin aku ya empuss!”rayu Steven sambil berlutut dikakinya dan memegang kedua tanganya
“ Ih, kamu apa-apa’an sih, ini Perpus tau. Malu, entar banyak orang yang melihat.Berdiri gak??”
“Gak mau, kamu maafin aku dulu.Baru aku mau berdiri.”
“Ehm..gimana ya?? Maafin gak ya??Kasih maaf gak ya?? ”goda Juminten sambil tersenyum
“ Ayo dong, maafin aku!”kata Steven memelas
“ Ya udah, aku maafin. Lain kali, jangan cuekin aku, ajarin aku kimia dan jangan terlalu berlebihan kalau main game.Janji???”
“ Iya, janji hehehehe!
“ Ya udah kamu berdiri gih.”
“ Iya…! Ini aku ada sesuatu buat kamu.”
“Apa?”
“Tutup mata dulu dong,!!”
“Ih, kok pakai tutup mata.Bikin penasaran saja.”
“ Ayo tutup mata, ini bagus loh.! Kamu pasti suka.”katanya percaya diri
“Ya udah aku tutup mata.”
          Steven mengeluarkan sebuah novel dari selipan bajunya.Novel yang tidak begitu tebal, berwarna biru kehijauan.Ia tahu bahwa pacarnya itu suka membaca novel dan ia telah mencari sebuah novel perjuangan anak Belitung, yang baru keluar beberapa bulan yang lalu.
“ Udah, sekarang buka mata kamu.!”kata Steven sambil tersenyum manis.
“ Wah,… ini kan novel yang aku cari, {LASKAR PELANGI}. Ih, kamu kok tau sih, kalau aku lagi cari novel ini.”Kata Juminten tersenyum girang.
“ Iya dong, aku gitu. Aku kan tau, apa yang kamu mau dan lagian kamu itu orang yang aku sayang.”
“ Ih, mulai deh gombalnya. Eh, makasih ya buat novelnya.”
“ Iya sama-sama !”
          Kriiiiiinnngggggggggg, bunyi bel sudah terdengar. Jam istirahat sudah habis. Waktunya para siswa kembali memulai pelajaran.
“ Eh, Steven sudah bel tuh. Ayo masuk.”ajak Juminten
“Ahh, lagi asyik berduaan sama kamu.Cepat banget sih, waktu istirahatnya.”Steven mengeluh
“ Udah ayo masuk, lagian habis ini waktunya pelajaran Bahasa Indonesia. Biasanya gurunya datang tepat waktu.”ajak Juminten lagi sambil menarik tangan Steven yang berkulit putih itu.
“Ya udah… Ayo masuk.”
          Pelajaran Bahasa Indonesia pun dimulai, ….
“ Anak-anak pelajaran hari ini mengenai memerankan suatu tokoh. Berhubungan dengan itu , tugas terakhir kalian adalah membuat pementasan drama musikal. Satu kelas, satu kelompok. Nanti drama musikal kalian akan di pentaskan waktu Dies Natalis sekolah kita. Dan  Terserah siapa yang nantinya menjadi sutradaranya. Nanti kalau ada  kesulitan bisa konsultasi ke Ibu ya, Mengerti??”
“Ya, bu!!”
“Bu, itu temanya bebas kan?”tanya ketua kelas, Doni . anak yang pintar main gitar juga pandai dalam olah raga sekaligus juga wakil ketua OSIS.
“ Ya temanya bebas, itu terserah kalian. Ibu beri waktu satu bulan untuk mempersiapkannya.Ibu harap kalian bisa melakukan yang terbaik. ” harap Bu Nita
“Baik bu…!”
“ Pasti kami akan melakukan yang terbaik. Semangat teman-teman…! Ganbatte!”sahut Susi anak paling semangat di kelas, ya maklum setiap hari selalu ceria dan penuh semangat. Seperti tak ada beban dalam hidupnya.
“ Ya sudah, kerjakan LKS halaman 34 sampai 37 .Ibu mau pergi dulu ada urusan dikantor. Doni, nanti kalau sudah selesai kumpulkan dimeja saya.”
“Baik bu…”
          Beberapa saat setelah Ibu Nita meninggalkan kelas, para siswa langsung mengerjakan tugas yang diberikan. Tiba-tiba, Doni si ketua kelas maju ke depan dan memulai berdiskusi tentang pementasan drama musical.
“Mohon perhatiaannya sebentar, yang nulis, yang HPan dan laptopan berhenti sebentar.”
“Iya, …”
“Sehubungan dengan pementasan drama musical yang ditugaskan bu Nita tadi, ada usul dari teman-teman untuk temanya ?”tanya Doni
“Ehm, gimana kalau temanya tentang perjuangan untuk meraih mimpi kita”kata Juminten.
“Kalau menurutku sih, temanya tentang cinta saja. Kan para remaja sukanya jatuh cinta”sahut Mila
“Ehm, boleh juga usulan dari Juminten dan Mila. Mungkin ada yang lain?.”
          Para siswa di kelas itu, terdiam sejenak. Memikirkan tema apa yang bagus untuk drama tersebut. Mereka lagi bingung, si Steven malah sibuk Twitteran. Tak menghiraukan apa yang ketua kelas katakan.
“Eh, Steven kamu jangan HPan saja, bantu kita dong buat mikir tema apa yang bagus untuk drama kita?”kata Doni jengkel
“Ih, biarin saja dong.Kan aku Cuma HPan gak buat ricuh.Lagian temanya kan sudah ada gitu.”ucap Steven tak menghiraukan.
“Iya, tapi kan setidaknya kamu menghargai dan mendengarkan apa yang aku sampaikan, ini juga kepentingan kita bersama.”ujar Doni jengkel
“Emang kamu siapa, Cuma ketua kelas aja.!!”katanya lirih
“Ehm, apa yang kamu bilang barusan??”kata Doni dengan suara keras
“ Udah, kita kok malah jadi ribut gini. Kapan selesainya??? Buat Steven, tolong hiraukan sebentar saja, ini kan juga tugas terakhir disemester dua ini.”sahut Juminten melerai
“Emang si Steven itu, sikapnya selalu seperti itu.gak pernah berubah”sahut Dimas
“Emang kenapa kalau sikapku seperti ini, gak suka?Terusik?Itu kan terserah aku, masalah buat kamu.”kata Steven
“Ihh, kamu tuh ya!Selalu aja bikin orang naik darah terus.”teriak Dimas
“Sudahlah, Dimas jangan memperkeruh suasana.”ujar Juminten 
“Tenang semuanya, sudah  jadi gimana?? Temanya tentang cinta atau perjuangan?.”tanya Doni
“ Cinta… cinta… cinta… Perjuangan…Cinta..”teriak para siswa di kelas itu
“Ya, ada banyak yang memilih cinta.Jadi temanya tentang cinta.Setuju??”
“Iya..”
“ Kan temanya sudah ketemu, terus siapa yang mau jadi sutradaranya dan penulis skenarionya?”
"Gimana kalau Juminten jadi sutradaranya  kan di juga ikut Eskul Teater dan yang jadi penulis skenarionya Fitri. Lagian Fitri kan pandai dalam mengarang??usul Susi
“ Ya betul Doni, aku setuju. Gimana temen-temen setuju kan?”sahut Dimas
“Setuju, setuju,…!”
“Oke gimana Juminten dan Fitri mau?”tanya Doni
“Ya udah, aku mau.”kata keduanya
          Setelah beberapa hari, naskah drama musikal sudah selesai dibuat dengan penuh penghayatan Fitri menuangkan bakatnya dalam coretan-coretan tinta hitam pada naskahnya.Ia membuat naskah berjudul “Romeo dan Juliet” ya, kisah yang sudah dikenal oleh banyak masyarakat itu. Dan hari ini, hari minggu mereka mulai pemilihan tokoh  dirumah Juminten. Steven pun datang, dengan wajah yang agak malas karena biasanya ia asyik ngegame pada hari minggu . Tapi minggu ini, ia harus latihan drama.
“Pagi temen-temen, Apa sudah berkumpul semua?.”tanya Juminten
“Belum, Steven belum datang!”jawab Susi
“Kemana ya, kok dia belum datang.Kemarin kan sudah aku sms.”ucap Juminten khawatir
“ Alah, sekarang saja bagi tokohnya. Ngapain nunggu Steven, dia tidak bakalan datang.Dia kan sok sibuk.”sahut Dimas
“ehm, ya sudah aku mulai. Aku akan memilih siapa yang menjadi Juliet dan Romeo.”
“Wah, aku sudah tidak sabar.Siapa ya?? Semoga saja aku yang jadi julietnya”kata Susi
“ Mmmmm, yang jadi julietnya itu Mila” ujar Juminten tersenyum
“ Wah, si Mila yang jadi julietnya . aku setuju banget. Hehehehe”sahut Dimas senang
“Ya , bukan aku.”kata Susi kecewa
“ Maaf ya, tenang saja kamu jadi mamanya Juliet .”
“Gak apa-apa deh jadi mamanya.”
“Terus, aku jadi apa?”tanya Niken
“Kamu jadi pohonnya!”sahut Dimas tertawa
“ Kok pohon, aku kan juga cantik. Kalau aku jadi pohon entar wajah ku nggak kelihatan dong, terus aku gak terkenal, frustasi, akhirnya aku gila.”ujar Niken ngebayangin.
“Hadeh, mulai deh si Niken.”kata Mila
“Terus, yang jadi romeonya siapa?”tanya Doni
“mmmm, yang jadi romeonya adalah Steven.”
“Hah, Steven.Yang benar saja, masak Steven?”kata Doni tak percaya
“Kenapa harus Steven sih, kan ada yang lain Juminten? Aku, Rizal, Doni kenapa harus Steven? Lagian Steven itu sombong, cuek , pelit , gak pernah serius, menganggap semuanya mudah dan kalau berbicara itu gak pernah mikirin perasaan orang lain” kata Dimas tak percaya
“Dimas, jaga  mulutmu dan jaga perasaan Juminten. Steven itu pacarnya, seharusnya kamu jangan berkata seperti itu.”sahut Mila
“Ehm, tapi  aku mohon berilah dia kesempatan untuk bisa berubah menjadi anak yang mau serius dalam suatu hal dan tak cuek lagi.”jelas Juminten
“Tapi, Masak Steven sih?” kata Dimas lagi
“Emang kenapa kalau aku?Aku kan juga ganteng dan lagian aku juga bisa acting.”sahut Steven yang baru datang.
“Tapi, kamu kan selalu gak pernah datang kalau ada latihan atau kerja kelompok.Sesekali kamu datang, pasti telat.”tegas Dimas
“ Itu kan urusanku, tapi kan sekarang aku datang.”
“Sudah, sudah, jangan rebut lagi. Kalian berdua itu selalu saja kayak kucing sama anjing. Gak pernah akur.Dimas, kita harus menghargai keputusan Juminten.mungkin ada alasannya kenapa Juminten memilih Steven sebagai Romeonya. Dan kamu Steven aku berharap kamu mau serius dalam hal ini dan datanglah setiap ada latihan atau semacamnya.”kata Susi
“Terima kasih ya Susi, kamu mau membantu aku.”kata Juminten tersenyum
“Ya sudah, sekarang kita mulai latihannya.”ujar Doni
          Mereka pun, memulai berlatih ada yang yang menghafalkan naskah, beradu acting dan ada yang membuat property yang akan digunakan untuk pementasan. Mereka sangat serius dalam hal ini, beberapa jam mereka terus berlatih dan malam pun menjelang datang.Mereka semua mengakhiri latihan pada hari itu, dan satu persatu pulang.Tinggal Steven yang ada di rumah Juminten.
Juminten lagi asyik duduk di bangku taman putih,panjang di depan rumahnya tanpa menyadari bahwa Steven belum pulang, diterangi lampu taman warna kuning dan udara malam yang dingin merasuk dalam tubuhnya yang mungil itu. Serta cahaya rembulan ikut menyinarinya menambah suasana indahnya malam.Datanglah Steven dan duduk disebelahnya.
“Malam empussku, kamu ndak dingin apa? Ini pakai jaketku ya, nanti  kamu sakit lagi.”kata Steven perhatian sambil melepas jaket abu-abunya yang gak begitu tebal tapi bisa untuk menghangatkan tubuh Juminten.
“ Ehm , kamu Gudae (Gudae=sayang) ?? Ya makasih jaketnya doppiku.
“Sama-sama Gudae!!”
          Tangan Steven mulai menggenggam tangan Juminten dengan erat dan penuh perasaan. Hati Juminten dag dig dug, keringat dingin ada di sekujur tubuhnya.
“Ehmmmmm, Hati ku dag dig dug, mau copot nie..…”
“Hei kamu kenapa?”tanya Steven
“Ndak, gak apa-apa kok. Ehm, Steven, kenapa kamu masih ada disini, kan udah malam, nanti mamamu khawatir??”tanya Juminten
“Ehm, kasih tau ndak ya??”
“ Kasih tau dong?”
“ Aku masih kangen sama kamu. Ingin melihat wajah empussku yang imut kayak marmut sampai aku ndak bisa bedain mana kamu dan marmut.”jawab Steven tertawa sambil mencubit pipi Juminten yang agak tembem. 
“ Aduh sakit tau, meskipun aku kayak marmut tapi kamunya suka aku hehehe ”balas Juminten
“Betul juga, selamat ya anda mendapatkan hatiku.Hehehe!”
“Ehm, mulai deh!!”
          Hampir satu jam mereka berbincang-bincang tengah malam ini. Malam semakin larut.Hati kecil Juminten ingin menjelaskan suatu hal yang menjadi unek-uneknya selama ini.
“Ehm, Steven !”
“ Apa?”
“ Kamu tahu tidak, kenapa kamu yang aku jadikan peran Romeonya?”
“Karena aku ganteng .Hehehehe!”
“Aku serius?”
“ Iya , aku juga serius hehehehe!”
“Hemm, maaf sebelumnya Doppi. Aku mau bicara jujur, kau tau tidak kenapa aku perankan kamu jadi romeonya, agar kamu mau berubah akan sikapmu yang cuek, agak sombong dan tak pernah serius dalam  mengerjakan sesuatu hal. ”jelas Juminten
  Maksud kamu apa?”
“ Jangan marah dulu, aku mau kamu berubah. Ubah sikap kamu yang sombong, cuek dan kalau bicara jangan sampai nyakitin hati orang lain.. Ya mungkin bisa seperti romeo yang gak sombong ”
“Hah, berubah akan sikapku? Kau mau aku seperti romeo. Romeo ya romeo, aku ya aku. Itu terserah aku, aku gak pernah tuh nyakitin orang lain dan aku juga tidak menyombongkan diri.”kata Steven marah langsung berdiri
“ Ehm, kamu nyadar gak sih, banyak teman-teman yang tidak suka akan sikapmu itu. Makanya kamu dijauhin!”
“Jadi kamu ikut-ikutan temen-temen, pada gak suka sama aku dan mau ngucilkan aku.”
“ Gak bukan gitu maksud aku. Aku gak mau temen-temen jauhin kamu.”
“Aku gak peduli sama mereka, mereka mau jauhin atau gak itu gak pengaruh buat aku.Lagian aku gak butuh mereka??!!!
“ Kamu kok bicara seperti itu, itu tuh sifat kamu yang harus dirubah!”ujar Juminten kesal
“Biarin saja, kamu gak usah ngatur-ngatur aku.”
“Kamu tau, aku nasehatin kamu agar kamu berubah dan temen-temen gak pada bicarain kamu lagi sebab aku  tidak tahan, sedih dan sakit hati kalau ada temen-temen yang bicara tentang kamu. Mengerti?”kata Juminten sambil meneteskan air mata
“Apa?Jadi kamu peduli?!”
          Tiba-tiba Steven menarik tangan Juminten dan memeluknya dengan erat.Juminten menangis di pundak Steven.
Steven berkata,” Aku janji akan berubah, Aku berubah demi kamu. Jangan sedih lagi ya dan maaf kata-kataku tadi kasar.”
Juminten hanya mengangguk dan bernafas tersengal-sengal. Beberapa menit kemudian, Steven melepaskan pelukannya dan ia mengusap air mata Juminten yang menetes dipipi imutnya itu dengan halus.
“ Udah, jangan nangis lagi ya! Nanti imutnya hilang loh.!”kata Steven bercanda
“Iya..” kata Juminten sambil tersenyum
          Sejak malam itu, Steven mulai janji akan merubah sikapnya. Tapi, ia tak bisa merubah sikapnya itu. Buktinya, Steven jarang ikut latihan .kadang ikut, kadang tidak. Sampai suatu ketika , acara pementasan drama musical pun tinggal menghitung hari. Juminten dan temen-temennya mengadakan latihan setiap harinya. Tapi Steven tak pernah ikut latihan,…
“ Juminten, Steven mana sih? Dia kok, gak pernah ikut latihan, padahal dia itu pemeran utamanya dan  pementasan dramanya sebentar lagi.”tanya Doni
“Aku juga gak tau, aku kemarin dia bilang akan ikut latihan. Tapi ini tadi sudah  aku sms tapi gak dibalas! Aduh, kemana sih dia?”Juminten panik.
“Aku kan sudah bilang, dia gak mungkin serius dan bertanggung jawab.”sahut Dimas
“Sudahlah temen-temen kita tunggu saja sebentar!. Selama menunggu yang lain, latihan dulu.”ujar Rizal
“Ya betul kata Rizal, kalian latihan dulu ya.Untuk romeonya, Rizal kamu ganti’in Steven dulu sementara.”kata Juminten.
“Owch iya,..”
          Yang lain pun berlatih, sedangkan Juminten merasa marah terhadap Steven. Dan ia memutuskan untuk menelfon ke mamanya.
(ditelefon)
“Hallo, assalamualaikum tante?”
“Waalaikumsalam. Owch, Juminten. ada apa?”
“Steven ada dirumah tante? Kalau ada, tolong  sampaikan agar dia mau ikut latihan drama dirumah Rizal sekarang.”
“Owch iya, Steven ada dirumah dan akan tante sampaikan.”
“Terima kasih tante!Ya udah assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam”
          Setelah itu, mama pergi ke kamar Steven. Dikamarnya, Steven lagi asyik main game . Ia lupa bawa ada latihan (mengetuk pintu) “Steven,..mama mau bicara!”panggil mama.
“Iya ma masuk saja, gak dikunci”
“Steven, tadi Juminten telfon, katanya kamu ada latihan drama ya sekarang dirumah Rizal.”kata mama
“Owch iya Ma, Steven lupa. Udah janji lagi sama Juminten!”
“Ya udah gi, cepat pergi latihan.”
“Gak ah Ma, lagian aku sudah telat.Udah jam 5 sore.Pasti mereka sudah mau selesai.”
“Tapi kan, kamu sudah janji dan kamu harus datang.Meskipun telat, tapi kamu mau menepati janji itu.Ayo segera pergi.”

“Ehm, ya udah deh Ma. Steven pergi dulu ya!.”
          Akhirnya Steven datang untuk latihan.Waktu terus bergulir, hari pementasan drama pun tiba. Hari Dies Natalis ke 30 tahun SMAN  1 Jakarta Selatan sudah tiba, semua murid-murid berantusias untuk memperingati ulang tahun sekolahnya. Diantaranya mempersiapkan banyak lomba, tari-tarian , alat music, lagu dan drama musical. Begitu juga dengan Juminten dan teman-temannya, ia menyiapkan panggung yang begitu indah, rapi dan cetar membahana. Hiasan dinding-dinding panggung yang terbuat dari anyaman bunga dan dedaunan, lampu panggung yang siap menyorot setiap sudut pemainnya, setting tempat kerajaan yang mirip seperti aslinya dan alunan music  romantis yang ikut mendukung suasananya. Keesokkan harinya,  waktu menunjukkan pukul  1 siang.
“Eh Juminten, Steven mana kok belum datang?”tanya Susi
“Iya aku juga gak tau, sms aku gak dibalas, telfon ndak diangkat.”jawab Juminten bingung
“Iya, gimana nie.Pukul 3 sore acaranya dimulai.Sekarang sudah pukul 1.”
“Iya, aku juga bingung.Mungkin sebentar lagi dia datang.”
          Semua sudah berganti pakaian dan siap-siap mau pentas. Juminten mondar-mandir, ia binggung Steven tak ada kabar sama sekali. Ia panic, hatinya dag dig dug kayak orang yang mau ditembak sama cowok. Keringat dingin mengelucur ditubuhnya. Ia bolak-balik menelfon Steven tapi tak diangkat , ia juga menelfon mamanya tapi tidak diangkat juga ya maklum mungkin mamanya sibuk di restaurant. Waktu  mulai bergulir, jam sudah menunjukkan pukul 2.45 siang, semua guru dan murid sudah berkumpul di aula berukuran 45 m x 40 m , gak kebayangkan aula saja luas segitu, gimana sama skulnya , mending gak usah dibayangin.  Mereka sudah tidak sabar ingin menyaksikan penampilan dari siswa-siswinya.
“Aduh, Steven mana sih?Semua orang sudah berkumpul.Dia itu lupa atau gimana sih?”
“ Gimana nih, waktu pementasan mau dimulai?”kata Doni
“Iya, Steven mana sih gak bertanggung jawab.”ucap Dimas
“Gimana ini Jum, kita harus memulai sekarang.”kata Rizal
“Iya gimana nie, masak kita harus ngebatalin semua ini.”kata Niken
“Ya udah, Rizal kamu yang jadi Romeonya, kan kamu sering ganti’in Steven waktu gak datang latihan. Gimana ?mau ya, please demi kita bersama.”pinta Juminten
“Ehm, terus yang ganti”in peran aku gimana?”
“Kan peran kamu jadi pohon, biar aku saja!”kata Juminten yakin
“Ya sudah, aku mau.”
“ Ayo temen-temen , kita harus semangat”ujar Susi
“Biasmilahirahmanirahim, Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Kawin Lagi.”kata mereka bersama.
          Sementara mereka sibuk tampil ke panggung, kita kembali ke Steven.Dirumah Steven malah masih tidur. Udah gitu tidurnya kayak kebo yang susah dibangunin. Dirumahnya tidak ada siapa-siapa , hanya ada dia sama Marsella. Ia ketiduran, maklum habis begadang lihat bola Indonesia Vs Korea Selatan. Tiba-tiba Marsella naik ke tempat tidur Steven dan tak sengaja Marsella pipis di baju Steven.
“Hoam, emm bau apa sih ini?Kok basah bajuku.”
“Meong,…!”ujar Marsella
Steven langsung bangun, ia berkata, “Ahh, Marsella. kok aku dikencingin sih,  bau lagi.!” Ia melihat kearah jam dinding.
“Hah, Gaswat.Dramanya, aku ketiduran.Aduh gimana nie, Juminten pasti marah.”
          Steven pun bergegas ke sekolah, dengan metode langkah kaki seribu  . Tanpa, menyadari ia pergi ke sekolah hanya pakai baju dan celana pendek alias Kolor berwarna pink dengan gambar Hello Kitty di depannya.
(Kembali ke panggung)
          Mereka mulai memerankan posisinya di atas panggung megah itu.Alunan music yang berpadu dengan acting mereka yang luar biasa menimbulkan suasana yang bagus dan terlihat nyata.Waktu pun terus berputar, dan akhirnya pementasan pun selesai. Para penonton bertepuk tangan dengan meriah dan mereka senang akan tampilan drama musical itu. Penonton pun mulai meninggalkan aula.Suasana pun mulai sepi.
“Alhamdulillah, acara kita sukses teman-teman.”kata Doni bangga
“Iya, terima kasih semua.Kita bagus, kita kompak dan kita sukses.Rizal makasih banyak ya, tanpa ada kamu mungkin kita batal drama musikalnya.”kata Juminten senang
“Iya sama-sama. Kita kan teman”ucap Rizal sambil tersenyum
“Iya, ini juga berkat kamu, Jum.Kamu sutradara handal.”puji Doni
“Iya, betul.Naskah Fitri yang bagus ditambah sutradara yang handal.Sipph abiz.”ucap dimas
“Iya, kita semua main bagus!.” Kata Mila yang saat itu berada disebelah Juminten.
“Ya udah ya, teman-teman aku pulang dulu. Badan aku capek semua. Yuk Fit!”ajak Susi
“Ya udah, aku juga mau pulang. Yuk Dim, Zal, ”ucap Doni
          Setelah mereka semua pulang, tinggal Juminten yang ada disitu untuk merapikan barang-barangnya, datanglah Steven dari pintu aula dengan berlari.
“Ahh, !”teriak Juminten sambil tutup mata
“Ada apa Jum??”tanya Steven
“Ihh, Steven porno.!Itu kamu gak pakai celana.”
          Steven melihat kearah bawah, dengan sigap dia langsung menutupinya dengan kain bekas drama pementasan yang ada disebelahnya. Mukanya merah kayak orang yang lagi nahan BAB yang gak keluar-keluar.
“Maaf, kamu bisa buka mata sekarang.”kata Steven malu.
“Ehm, hehehe …!”Juminten tertawa kecil
“Kenapa kamu malah tertawa??”tanya Steven heran
“Habis kamu gak pakai celana, Cuma pakai kolor.Hahahaha”jawab Juminter tertawa terbahak-bahak.
“Hehehehe, mmm dramanya tadi gimana?Maaf aku telat.”
“Hem, bahkan drama udah selesai setengah jam yang lalu.Kenapa baru datang sekarang kamu gak tanggung jawab banget sih??”
“Aku tadi ketiduran.!”
“Gara-gara kamu gak datang, drama kelas kita itu bisa berantakan.Untung ada Rizal, yang mau gantikan peranmu.”kata Juminten ketus
“Ya baguslah,..untung masih bisa terselamatkan.”kata Steven lega
“Kamu tuh ya, kita semua panic gara-gara kamu gak datang. Gak bertanggung jawab.”
“Eh, aku bertanggung jawab tau!Buktinya nie aku datang sampai-sampai aku gak pakai celana!”
“Kamu tuh, masih saja bisa bersikap seperti itu, gak mau minta maaf malah ikutan marah-marah.”
          Juminten pun pergi meninggalkan Steven, dengan kesal melihat sikap Steven yang seperti itu. Steven hanya terdiam tanpa meminta maaf, ia hanya mrasa ia sudah bertanggung jawab dan tak perlu meminta maaf.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar