BETTER THAN BEFORE
BAB 1 (MARSELLA)
Mentari
pagi mulai memunculkan sinarnya, hembusan angin pagi yang dingin menyentuh
kulit-kulit yang ada disekujur tubuh.Kehijauan mulai terlihat disisi kabut
putih bening yang mengelilinginya.Mulai bermunculan aktivitas manusia dari
berangkat sekolah sampai pergi untuk bekerja.Begitu juga dengan Steven, anak
cowok dari keuarga kaya raya didaerahnya.Ia sangat mencintai keluarganya
terutama mamanya. Ia akan melakukan apa saja yang mamanya mau, karena ia
mempunyai prinsip bahwa ibunya yang
nomer 1.
Paginya
dimulai seperti biasanya, yaitu memanggil Marsella.
“ Marsella….marsella….marsella
sayang… ?????!!!” panggilnya dengan penuh kasih sayang.
Lima menit kemudian, Marsella tetap saja tak mau menampakan
dirinya.
“ Marsella,… Marsella kamu
dimana??? Kamu tidak mau ini… ayo keluar sayang.!!???” Panggilnya lagi sambil
membawa semangkuk kecil berisikan makanan berwarna coklat dan susu.
Akhirnya, Marsella pun keluar dengan berlari-lari kecil
mengelilingi Steven berwajahkan manja dan iamengeluskan kepalanya dan badannya
yang berbulu putih bersih kearah kaki Steven. Ya, kucing kesayangannya.
“ Owc,… Marsella ku yang
cantik, ini makan yang banyak ya!” ucap Steven
Steven mulai berkemas untuk pergi ke sekolah .Sekolah
favorit di Jakarta Selatan yang terletak disebelah barat rumahnya yang berjarak
sekitar 8 km.
“Steven…. Steven…. Steven…
sarapan dulu sayang, ini mama sudah buatkan nasi goreng kesukaanmu. Ayo cepat
turun, sayang????!!” teriak mama
“Iya ma….!!”
Dengan begitu kerennya, Steven turun tangga dengan seragam
putih abu-abu rapi dan bersih dengan memakai sepatu putih kesukaannya.
“ Hai ma, !!” peluk dan cium
Steven
“ mmmm, anakku yang tampan ini.
Ayo duduk sini dan makan sana, mama udah buatin nasi goring special telur mata
sapi.”
“Iya dong ma, aku kan anak mama
yang paling tampan, dari pada itu…tu ….”ejek Steven dan memandang kea rah lain.
“ Eh, maksud kamu aku…. ??!!!”
ucap Dika , kakak satu-satunya Steven yang paling keren satu sekolahan kata
pacarnya.
“ Udah nyadarkan, hehehehe !!”
“ Eh, meskipun aku kayak gini,
banyak yang ngevens di sekolah dan lagian aku kan ketua OSIS . dari pada kamu ,
gak jadi apa-apa.” Ejek Dika tidak mau kalah.
“ Biarin saja, yang penting aku
tetep paling keren, wek !!!!!” ketus Steven
“ Udah, jangan bertengkar lagi
! ayo makan, udah siang ini.” Sahut mamanya
“ Itu tuh Kak Dika,… ehm, owch
iya ma, papa mana? Kok tidak ikut sarapan.” kata Steven heran
“ Owch Papa tadi berangkat
pagi-pagi, katanya ada urusan mendadak.”
“Owch….!!!!!!!”
Beberapa menit kemudian, waktu sudah menunujukkan pukul
06.30 WIB.
“ Ya udah ma, kak. Steven
berangkat duluan ya, Ma! Dah mama, kakak
….!”
“ owch iya sayang, hati-hati
ya!!”
Steven berangkat ke sekolah dengan mobil merah
kesayangannya yang dibelikan oleh papanya di Amerika pada waktu ulang tahunnya
yang ke-17 tahun.
Sesampainya
dikelas yang bersih, ber-AC, mempunyai fasilitas yang lengkap sebagaimana
sekolah elit di Jakarta Selatan.teman-temannya lagi sibuk mengerjakn PR kimia.
Tapi ia biasa saja, ya maklum ia sudah mengerjakannya tadi malam dan Steven
juga pintar dalam pelajaran kimia. Ia langsung membuka laptopnya dan main game.
“ Steven , PR kimia mu sudah?”
tanya Mila seorang gadis berambut pendek yang gemar sekali menyanyikan semua
genre musik
“ Udah !!”
“ Kalau begitu, ajarin aku dong! Soal nomer 3 sulit.”
“ Itu loh mudah, masak kamu
tidak bisa.”
“ Ya, bagi kamu mudah tapi
sulit bagiku. Ayo ajarin aku dong!”
“ Kemarin kan sudah dijelasin
sama gurunya, masak masih tidak bisa??!!”
“ Ya, aku gak nyambung. Ajarin
ya??”
“ Sorry, aku sibuk!” ucap Steven
cuek sambil asyaik maen game di laptopnya
Mila pun pergi meninggalkan Steven yang pelit itu. Di sudut
lain, datanglah seorang gadis sederhana, berkulit putih , berambut panjang,
lurus terikat menjadi dua, mata bulat , alis tipis dan bulu mata yang tebal dan
lenting terbalik. Gadis yang selalu diimpikan setiap siswa yang ada disekolah
tersebut.Ia bernama Juminten. Ia langsung menghampiri Steven.
“ Hai, Steven aku mau tanya, PR
kimia yang nomer 3 itu gimana??? Dicari
KSP nya dulu atau langsung masukinnya???” tanya Juminten dengan mengeluarkan
buku kimianya.
“ Ya , seperti itu !”
“ Gimana sih, ajarin aku dong!!
Ini soal sulit.Aku kemarin udah nyoba mengerjakan, tapi tetap saja tidak ketemu
jawabannya.”jelas Juminten
“ Aduh, gitu saja tidak bisa .
itu dicari Kspnya dulu.”
“ owch, terus habis ketemu Ksp
nya, itu diapain lagi?”
“ Aduh aku lagi sibuk nie…!!”
“ Ya udah kalau gitu!” katanya
jengkel dan langsung meninggalkan Steven
yang tetap asyik main game.
Disisi lain, Mila juga marah melihat sikap Steven yang cuek
dan tidak mau mengajarinya.
“ Dasar pelit, minta ajarin
saja, gak mau. Huh..! Dasar Pelit.”gerutu Mila
“Eh, kenapa Mil??Lagi mikirin
aku ya?”tanya Dimas, anak laki-laki yang hobinya bercanda dan pemberani dalam
bersikap.
“ Gak tuh PD banget, Itu tuh,
Steven . Minta ajarin cara kimia aja, gak mau. Malah dia asyik main game.Dasar
pelit tuh anak!”kata Mila kesal.
“ Eh, kan kamu sudah tau, dari
dulu anak itu kayak gimana? Lihat pacarnya saja Juminten, sama dia dicuekin.
ehm, emang anak itu…” ucap Dimas sambil memandang ke arah Steven
“Iya, sampai kasihan aku lihat
Juminten. Dia itu kan cantik, pinter, baik kok mau sama Steven. Aneh!”
“ Iya, mending sama aku..
hehehehe!”
“ Ehm, Dasar kamu tuh ! Mana
mau Juminten sama kamu hehhehe.”ejek Mila
“ Gini-gini aku tampan tau. Kau
tau , aku tuh pernah foto sama artis Cristian ronaldo pemain sepak takrol”kata
Dimas percaya diri
“ Sepak bola kali? ”kata Mila
membenarkan
“Owch iya, sepak bola. Aku juga
main bola sama dia”
“Kalau benar ketemu dimana ?”
“Ehmmm, dalam mimpi!.”
“hhhhhhh, Ada-ada saja kamu,
Iya deh terserah kamu, aku pikir Steven mau berubah.”
“ Anak itu bisa berubah !! Gak
mungkin!” ucap Dimas sambil tersenyum licik.
“Sudah, kok kita malah ngegosip
sih, PR kimianya kan belum selesai.”
“Ini gara-gara kamu sih… !!”
“ Aku? Kamu !”
“ Kamu!”
“Kamu,..!”
“Stooooopppppppp kalian
berduaaaaaaaaaa!”sahut Niken yang duduk disebelah mereka, ia anak paling alay
dikelas setelah dimas, ia juga paling pintar berbicara alias cerewet.
“ hhehehehe!!”
“Eh, kenapa kalian berisik sih.
Aku kan lagi belajar, terganggu tau. Kalau kalian tetap berisik, aku gak bisa
ngerjain tugas, terus aku bisa kena marah, terus gurunya bakal menghukum aku
untuk berdiri dilapangan hormat ke tiang bendera terus aku pingsan , aku sakit dan
aku… Tidakkkk!”ujar Niken dengan sikap alaynya.
“Stoooooooooooooppppppp
nikeeeeeen, udah Mila kita lanjutin ngerjain PRnya.”sahut Dimas gergetan
(Mila hanya nyengir dan Niken
tersenyum aneh)
Banyak temen-temen Steven yang tak menyukai akan sikap Steven
yang seperti itu. Mereka semua mulai menjauh dari Steven agar Steven berubah dan menyadari kalau sikapnya itu salah. Tapi
sampai sekarang sikapnya tidak pernah berubah.
Bel pelajaran pun berbunyi (kriiiiiinnnngggggggggg),
pelajaran kimia pun dimulai.Masuklah guru kimia yang paling ditakuti di
sekolahan itu.
“ Pagi anak-anak!”
“Pagi pak,….”
“ PR kalian sudah apa sudah
dikerjakan? Adakah nomer yang sulit?”
“ Itu Pak, nomer 3.”sahut
Juminten
“ Oke, apa ada yang bisa nomer 3? Hmmmm, Steven
kamu bisa?”
“ Bisa Pak!”
“ Ya, kerjakan di depan!”
“ Baik, Pak!!”
Waktu pun bergulir, pelajaran kimia pun selesai.
“Anak-anak, untuk PR nya paket
halaman 12 sampai 14 ya!”
“Iya, Pak!”
“ Ya, sudah kalian boleh
istirahat.”
Istirahat pun dimulai, waktu dimana anak-anak melepaskan
sejenak kelelahan dalam belajar.Ada yang makan, minum, bermain dan pergi ke
Perpustakaan. Begitu juga dengan Juminten, ia sering pergi ke Perpus saat jam istirahat. Ya, kegemarannya
adalah membaca novel.Novel tentang perjuangan yang paling disukainya. Kira-kira
lebih dari 50 novel yang sudah ia baca. Dan kali ini, ia membaca novel
“Petualanganku”. Helai demi helai dengan seksama ia baca tanpa tertinggal satu
pun. Lagi asyik membaca, datanglah Steven.
“Hai empuss, lagi
ngapain??”tanya Steven sambil tersenyum.
“ Lagi baca !”jawab Juminten
jute’
“ Baca novel apa?”
“Surat Kecil untuk Tuhan!.”
“ Kamu kok gitu sih jawabnya,
nanti imutnya hilang loh empuss!”gombal Steven
“Biarin saja!”
“Ehm, kamu marah ya??Soal tadi
ya!”
“Enggak tuh!!
“Ya, maaf deh soal yang
tadi.Aku cuekkin kamu.”
“ Ihh, ngapain kamu disini.
Ganggu aja!”
“ Empuss imut, aku janji deh.
Aku tidak lagi mengulang itu lagi.Maafin aku ya empuss!”rayu Steven sambil
berlutut dikakinya dan memegang kedua tanganya
“ Ih, kamu apa-apa’an sih, ini
Perpus tau. Malu, entar banyak orang yang melihat.Berdiri gak??”
“Gak mau, kamu maafin aku
dulu.Baru aku mau berdiri.”
“Ehm..gimana ya?? Maafin gak
ya??Kasih maaf gak ya?? ”goda Juminten sambil tersenyum
“ Ayo dong, maafin aku!”kata
Steven memelas
“ Ya udah, aku maafin. Lain
kali, jangan cuekin aku, ajarin aku kimia dan jangan terlalu berlebihan kalau
main game.Janji???”
“ Iya, janji hehehehe!
“ Ya udah kamu berdiri gih.”
“ Iya…! Ini aku ada sesuatu
buat kamu.”
“Apa?”
“Tutup mata dulu dong,!!”
“Ih, kok pakai tutup mata.Bikin
penasaran saja.”
“ Ayo tutup mata, ini bagus
loh.! Kamu pasti suka.”katanya percaya diri
“Ya udah aku tutup mata.”
Steven mengeluarkan sebuah novel dari selipan bajunya.Novel
yang tidak begitu tebal, berwarna biru kehijauan.Ia tahu bahwa pacarnya itu
suka membaca novel dan ia telah mencari sebuah novel perjuangan anak Belitung,
yang baru keluar beberapa bulan yang lalu.
“ Udah, sekarang buka mata
kamu.!”kata Steven sambil tersenyum manis.
“ Wah,… ini kan novel yang aku
cari, {LASKAR PELANGI}. Ih, kamu kok tau sih, kalau aku lagi cari novel
ini.”Kata Juminten tersenyum girang.
“ Iya dong, aku gitu. Aku kan
tau, apa yang kamu mau dan lagian kamu itu orang yang aku sayang.”
“ Ih, mulai deh gombalnya. Eh,
makasih ya buat novelnya.”
“ Iya sama-sama !”
Kriiiiiinnngggggggggg, bunyi bel sudah terdengar. Jam
istirahat sudah habis. Waktunya para siswa kembali memulai pelajaran.
“ Eh, Steven sudah bel tuh. Ayo
masuk.”ajak Juminten
“Ahh, lagi asyik berduaan sama
kamu.Cepat banget sih, waktu istirahatnya.”Steven mengeluh
“ Udah ayo masuk, lagian habis
ini waktunya pelajaran Bahasa Indonesia. Biasanya gurunya datang tepat
waktu.”ajak Juminten lagi sambil menarik tangan Steven yang berkulit putih itu.
“Ya udah… Ayo masuk.”
Pelajaran Bahasa Indonesia pun dimulai, ….
“ Anak-anak pelajaran hari ini
mengenai memerankan suatu tokoh. Berhubungan dengan itu , tugas terakhir kalian
adalah membuat pementasan drama musikal. Satu kelas, satu kelompok. Nanti drama
musikal kalian akan di pentaskan waktu Dies Natalis sekolah kita. Dan Terserah siapa yang nantinya menjadi
sutradaranya. Nanti kalau ada kesulitan
bisa konsultasi ke Ibu ya, Mengerti??”
“Ya, bu!!”
“Bu, itu temanya bebas
kan?”tanya ketua kelas, Doni . anak yang pintar main gitar juga pandai dalam
olah raga sekaligus juga wakil ketua OSIS.
“ Ya temanya bebas, itu
terserah kalian. Ibu beri waktu satu bulan untuk mempersiapkannya.Ibu harap
kalian bisa melakukan yang terbaik. ” harap Bu Nita
“Baik bu…!”
“ Pasti kami akan melakukan
yang terbaik. Semangat teman-teman…! Ganbatte!”sahut Susi anak paling semangat
di kelas, ya maklum setiap hari selalu ceria dan penuh semangat. Seperti tak
ada beban dalam hidupnya.
“ Ya sudah, kerjakan LKS
halaman 34 sampai 37 .Ibu mau pergi dulu ada urusan dikantor. Doni, nanti kalau
sudah selesai kumpulkan dimeja saya.”
“Baik bu…”
Beberapa saat setelah Ibu Nita meninggalkan kelas, para
siswa langsung mengerjakan tugas yang diberikan. Tiba-tiba, Doni si ketua kelas
maju ke depan dan memulai berdiskusi tentang pementasan drama musical.
“Mohon perhatiaannya sebentar,
yang nulis, yang HPan dan laptopan berhenti sebentar.”
“Iya, …”
“Sehubungan dengan pementasan
drama musical yang ditugaskan bu Nita tadi, ada usul dari teman-teman untuk
temanya ?”tanya Doni
“Ehm, gimana kalau temanya
tentang perjuangan untuk meraih mimpi kita”kata Juminten.
“Kalau menurutku sih, temanya
tentang cinta saja. Kan para remaja sukanya jatuh cinta”sahut Mila
“Ehm, boleh juga usulan dari
Juminten dan Mila. Mungkin ada yang lain?.”
Para siswa di kelas itu, terdiam sejenak. Memikirkan tema
apa yang bagus untuk drama tersebut. Mereka lagi bingung, si Steven malah sibuk
Twitteran. Tak menghiraukan apa yang ketua kelas katakan.
“Eh, Steven kamu jangan HPan
saja, bantu kita dong buat mikir tema apa yang bagus untuk drama kita?”kata
Doni jengkel
“Ih, biarin saja dong.Kan aku
Cuma HPan gak buat ricuh.Lagian temanya kan sudah ada gitu.”ucap Steven tak
menghiraukan.
“Iya, tapi kan setidaknya kamu
menghargai dan mendengarkan apa yang aku sampaikan, ini juga kepentingan kita
bersama.”ujar Doni jengkel
“Emang kamu siapa, Cuma ketua
kelas aja.!!”katanya lirih
“Ehm, apa yang kamu bilang
barusan??”kata Doni dengan suara keras
“ Udah, kita kok malah jadi
ribut gini. Kapan selesainya??? Buat Steven, tolong hiraukan sebentar saja, ini
kan juga tugas terakhir disemester dua ini.”sahut Juminten melerai
“Emang si Steven itu, sikapnya
selalu seperti itu.gak pernah berubah”sahut Dimas
“Emang kenapa kalau sikapku
seperti ini, gak suka?Terusik?Itu kan terserah aku, masalah buat kamu.”kata
Steven
“Ihh, kamu tuh ya!Selalu aja
bikin orang naik darah terus.”teriak Dimas
“Sudahlah, Dimas jangan
memperkeruh suasana.”ujar Juminten
“Tenang semuanya, sudah jadi gimana?? Temanya tentang cinta atau
perjuangan?.”tanya Doni
“ Cinta… cinta… cinta…
Perjuangan…Cinta..”teriak para siswa di kelas itu
“Ya, ada banyak yang memilih
cinta.Jadi temanya tentang cinta.Setuju??”
“Iya..”
“ Kan temanya sudah ketemu,
terus siapa yang mau jadi sutradaranya dan penulis skenarionya?”
"Gimana kalau Juminten
jadi sutradaranya kan di juga ikut Eskul
Teater dan yang jadi penulis skenarionya Fitri. Lagian Fitri kan pandai dalam
mengarang??usul Susi
“ Ya betul Doni, aku setuju.
Gimana temen-temen setuju kan?”sahut Dimas
“Setuju, setuju,…!”
“Oke gimana Juminten dan Fitri
mau?”tanya Doni
“Ya udah, aku mau.”kata
keduanya
Setelah beberapa hari, naskah drama musikal sudah selesai
dibuat dengan penuh penghayatan Fitri menuangkan bakatnya dalam coretan-coretan
tinta hitam pada naskahnya.Ia membuat naskah berjudul “Romeo dan Juliet” ya,
kisah yang sudah dikenal oleh banyak masyarakat itu. Dan hari ini, hari minggu
mereka mulai pemilihan tokoh dirumah
Juminten. Steven pun datang, dengan wajah yang agak malas karena biasanya ia
asyik ngegame pada hari minggu . Tapi minggu ini, ia harus latihan drama.
“Pagi temen-temen, Apa sudah
berkumpul semua?.”tanya Juminten
“Belum, Steven belum
datang!”jawab Susi
“Kemana ya, kok dia belum
datang.Kemarin kan sudah aku sms.”ucap Juminten khawatir
“ Alah, sekarang saja bagi
tokohnya. Ngapain nunggu Steven, dia tidak bakalan datang.Dia kan sok
sibuk.”sahut Dimas
“ehm, ya sudah aku mulai. Aku
akan memilih siapa yang menjadi Juliet dan Romeo.”
“Wah, aku sudah tidak
sabar.Siapa ya?? Semoga saja aku yang jadi julietnya”kata Susi
“ Mmmmm, yang jadi julietnya
itu Mila” ujar Juminten tersenyum
“ Wah, si Mila yang jadi
julietnya . aku setuju banget.
Hehehehe”sahut Dimas senang
“Ya , bukan aku.”kata Susi
kecewa
“ Maaf ya, tenang saja kamu
jadi mamanya Juliet .”
“Gak apa-apa deh jadi mamanya.”
“Terus, aku jadi apa?”tanya
Niken
“Kamu jadi pohonnya!”sahut
Dimas tertawa
“ Kok pohon, aku kan juga
cantik. Kalau aku jadi pohon entar wajah ku nggak kelihatan dong, terus aku gak
terkenal, frustasi, akhirnya aku gila.”ujar Niken ngebayangin.
“Hadeh, mulai deh si
Niken.”kata Mila
“Terus, yang jadi romeonya
siapa?”tanya Doni
“mmmm, yang jadi romeonya
adalah Steven.”
“Hah, Steven.Yang benar saja,
masak Steven?”kata Doni tak percaya
“Kenapa harus Steven sih, kan
ada yang lain Juminten? Aku, Rizal, Doni kenapa harus Steven? Lagian Steven itu
sombong, cuek , pelit , gak pernah serius, menganggap semuanya mudah dan kalau
berbicara itu gak pernah mikirin perasaan orang lain” kata Dimas tak percaya
“Dimas, jaga mulutmu dan jaga perasaan Juminten. Steven
itu pacarnya, seharusnya kamu jangan berkata seperti itu.”sahut Mila
“Ehm, tapi aku mohon berilah dia kesempatan untuk bisa
berubah menjadi anak yang mau serius dalam suatu hal dan tak cuek lagi.”jelas
Juminten
“Tapi, Masak Steven sih?” kata
Dimas lagi
“Emang kenapa kalau aku?Aku kan
juga ganteng dan lagian aku juga bisa acting.”sahut Steven yang baru datang.
“Tapi, kamu kan selalu gak
pernah datang kalau ada latihan atau kerja kelompok.Sesekali kamu datang, pasti
telat.”tegas Dimas
“ Itu kan urusanku, tapi kan
sekarang aku datang.”
“Sudah, sudah, jangan rebut
lagi. Kalian berdua itu selalu saja kayak kucing sama anjing. Gak pernah
akur.Dimas, kita harus menghargai keputusan Juminten.mungkin ada alasannya
kenapa Juminten memilih Steven sebagai Romeonya. Dan kamu Steven aku berharap
kamu mau serius dalam hal ini dan datanglah setiap ada latihan atau
semacamnya.”kata Susi
“Terima kasih ya Susi, kamu mau
membantu aku.”kata Juminten tersenyum
“Ya sudah, sekarang kita mulai
latihannya.”ujar Doni
Mereka pun, memulai berlatih ada yang yang menghafalkan
naskah, beradu acting dan ada yang membuat property yang
akan digunakan untuk pementasan. Mereka sangat serius dalam hal ini, beberapa
jam mereka terus berlatih dan malam pun menjelang datang.Mereka semua
mengakhiri latihan pada hari itu, dan satu persatu pulang.Tinggal Steven yang
ada di rumah Juminten.
Juminten lagi asyik duduk di
bangku taman putih,panjang di depan rumahnya tanpa menyadari bahwa Steven belum
pulang, diterangi lampu taman warna kuning dan udara malam yang dingin merasuk
dalam tubuhnya yang mungil itu. Serta cahaya rembulan ikut menyinarinya
menambah suasana indahnya malam.Datanglah Steven dan duduk disebelahnya.
“Malam empussku, kamu ndak
dingin apa? Ini pakai jaketku ya, nanti
kamu sakit lagi.”kata Steven perhatian sambil melepas jaket abu-abunya
yang gak begitu tebal tapi bisa untuk menghangatkan tubuh Juminten.
“ Ehm , kamu Gudae
(Gudae=sayang) ?? Ya makasih jaketnya doppiku.
“Sama-sama Gudae!!”
Tangan Steven mulai menggenggam tangan Juminten dengan erat
dan penuh perasaan. Hati Juminten dag dig dug, keringat dingin ada di sekujur
tubuhnya.
“Ehmmmmm, Hati ku dag dig dug,
mau copot nie..…”
“Hei kamu kenapa?”tanya Steven
“Ndak, gak apa-apa kok. Ehm,
Steven, kenapa kamu masih ada disini, kan udah malam, nanti mamamu
khawatir??”tanya Juminten
“Ehm, kasih tau ndak ya??”
“ Kasih tau dong?”
“ Aku masih kangen sama kamu.
Ingin melihat wajah empussku yang imut kayak marmut sampai aku ndak bisa bedain
mana kamu dan marmut.”jawab Steven tertawa sambil mencubit pipi Juminten yang
agak tembem.
“ Aduh sakit tau, meskipun aku
kayak marmut tapi kamunya suka aku hehehe ”balas Juminten
“Betul juga, selamat ya anda
mendapatkan hatiku.Hehehe!”
“Ehm, mulai deh!!”
Hampir satu jam mereka berbincang-bincang tengah malam ini.
Malam semakin larut.Hati kecil Juminten ingin menjelaskan suatu hal yang
menjadi unek-uneknya selama ini.
“Ehm, Steven !”
“ Apa?”
“ Kamu tahu tidak, kenapa kamu
yang aku jadikan peran Romeonya?”
“Karena aku ganteng .Hehehehe!”
“Aku serius?”
“ Iya , aku juga serius
hehehehe!”
“Hemm, maaf sebelumnya Doppi.
Aku mau bicara jujur, kau tau tidak kenapa aku perankan kamu jadi romeonya,
agar kamu mau berubah akan sikapmu yang cuek, agak sombong dan tak pernah
serius dalam mengerjakan sesuatu hal.
”jelas Juminten
“ Maksud kamu apa?”
“ Jangan marah dulu, aku mau
kamu berubah. Ubah sikap kamu yang sombong, cuek dan kalau bicara jangan sampai
nyakitin hati orang lain.. Ya mungkin bisa seperti romeo yang gak sombong ”
“Hah, berubah akan sikapku? Kau
mau aku seperti romeo. Romeo ya romeo, aku ya aku. Itu terserah aku, aku gak
pernah tuh nyakitin orang lain dan aku juga tidak menyombongkan diri.”kata
Steven marah langsung berdiri
“ Ehm, kamu nyadar gak sih,
banyak teman-teman yang tidak suka akan sikapmu itu. Makanya kamu dijauhin!”
“Jadi kamu ikut-ikutan
temen-temen, pada gak suka sama aku dan mau ngucilkan aku.”
“ Gak bukan gitu maksud aku.
Aku gak mau temen-temen jauhin kamu.”
“Aku gak peduli sama mereka,
mereka mau jauhin atau gak itu gak pengaruh buat aku.Lagian aku gak butuh
mereka??!!!
“ Kamu kok bicara seperti itu,
itu tuh sifat kamu yang harus dirubah!”ujar Juminten kesal
“Biarin saja, kamu gak usah
ngatur-ngatur aku.”
“Kamu tau, aku nasehatin kamu
agar kamu berubah dan temen-temen gak pada bicarain kamu lagi sebab aku tidak tahan, sedih dan sakit hati kalau ada
temen-temen yang bicara tentang kamu. Mengerti?”kata Juminten sambil meneteskan
air mata
“Apa?Jadi kamu peduli?!”
Tiba-tiba Steven menarik tangan Juminten dan memeluknya
dengan erat.Juminten menangis di pundak Steven.
Steven
berkata,” Aku janji akan berubah, Aku berubah demi kamu. Jangan sedih lagi ya
dan maaf kata-kataku tadi kasar.”
Juminten
hanya mengangguk dan bernafas tersengal-sengal. Beberapa menit kemudian, Steven
melepaskan pelukannya dan ia mengusap air mata Juminten yang menetes dipipi
imutnya itu dengan halus.
“ Udah, jangan nangis lagi ya!
Nanti imutnya hilang loh.!”kata Steven bercanda
“Iya..” kata Juminten sambil
tersenyum
Sejak malam itu, Steven mulai janji akan merubah sikapnya.
Tapi, ia tak bisa merubah sikapnya itu. Buktinya, Steven jarang ikut latihan
.kadang ikut, kadang tidak. Sampai suatu ketika , acara pementasan drama
musical pun tinggal menghitung hari. Juminten dan temen-temennya mengadakan
latihan setiap harinya. Tapi Steven tak pernah ikut latihan,…
“ Juminten, Steven mana sih?
Dia kok, gak pernah ikut latihan, padahal dia itu pemeran utamanya dan pementasan dramanya sebentar lagi.”tanya Doni
“Aku juga gak tau, aku kemarin
dia bilang akan ikut latihan. Tapi ini tadi sudah aku sms tapi gak dibalas! Aduh, kemana sih
dia?”Juminten panik.
“Aku kan sudah bilang, dia gak
mungkin serius dan bertanggung jawab.”sahut Dimas
“Sudahlah temen-temen kita
tunggu saja sebentar!. Selama menunggu yang lain, latihan dulu.”ujar Rizal
“Ya betul kata Rizal, kalian
latihan dulu ya.Untuk romeonya, Rizal kamu ganti’in Steven dulu sementara.”kata
Juminten.
“Owch iya,..”
Yang lain pun berlatih, sedangkan Juminten merasa marah
terhadap Steven. Dan ia memutuskan untuk menelfon ke mamanya.
(ditelefon)
“Hallo, assalamualaikum tante?”
“Waalaikumsalam. Owch,
Juminten. ada apa?”
“Steven ada dirumah tante?
Kalau ada, tolong sampaikan agar dia mau
ikut latihan drama dirumah Rizal sekarang.”
“Owch iya, Steven ada dirumah
dan akan tante sampaikan.”
“Terima kasih tante!Ya udah
assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam”
Setelah itu, mama pergi ke kamar Steven. Dikamarnya, Steven
lagi asyik main game . Ia lupa bawa ada latihan (mengetuk pintu) “Steven,..mama
mau bicara!”panggil mama.
“Iya ma masuk saja, gak
dikunci”
“Steven, tadi Juminten telfon,
katanya kamu ada latihan drama ya sekarang dirumah Rizal.”kata mama
“Owch iya Ma, Steven lupa. Udah
janji lagi sama Juminten!”
“Ya udah gi, cepat pergi
latihan.”
“Gak ah Ma, lagian aku sudah
telat.Udah jam 5 sore.Pasti mereka sudah mau selesai.”
“Tapi kan, kamu sudah janji dan
kamu harus datang.Meskipun telat, tapi kamu mau menepati janji itu.Ayo segera
pergi.”
“Ehm, ya udah deh Ma. Steven pergi dulu ya!.”
Akhirnya Steven datang untuk latihan.Waktu terus bergulir,
hari pementasan drama pun tiba. Hari Dies Natalis ke 30 tahun SMAN 1 Jakarta Selatan sudah tiba, semua
murid-murid berantusias untuk memperingati ulang tahun sekolahnya. Diantaranya
mempersiapkan banyak lomba, tari-tarian , alat music, lagu dan drama musical.
Begitu juga dengan Juminten dan teman-temannya, ia menyiapkan panggung yang
begitu indah, rapi dan cetar membahana. Hiasan dinding-dinding panggung yang
terbuat dari anyaman bunga dan dedaunan, lampu panggung yang siap menyorot
setiap sudut pemainnya, setting tempat kerajaan yang mirip seperti aslinya dan
alunan music romantis yang ikut
mendukung suasananya. Keesokkan harinya,
waktu menunjukkan pukul 1 siang.
“Eh Juminten, Steven mana kok
belum datang?”tanya Susi
“Iya aku juga gak tau, sms aku
gak dibalas, telfon ndak diangkat.”jawab Juminten bingung
“Iya, gimana nie.Pukul 3 sore
acaranya dimulai.Sekarang sudah pukul 1.”
“Iya, aku juga bingung.Mungkin
sebentar lagi dia datang.”
Semua sudah berganti pakaian dan siap-siap mau pentas.
Juminten mondar-mandir, ia binggung Steven tak ada kabar sama sekali. Ia panic,
hatinya dag dig dug kayak orang yang mau ditembak sama cowok. Keringat dingin
mengelucur ditubuhnya. Ia bolak-balik menelfon Steven tapi tak diangkat , ia
juga menelfon mamanya tapi tidak diangkat juga ya maklum mungkin mamanya sibuk
di restaurant. Waktu mulai bergulir, jam
sudah menunjukkan pukul 2.45 siang, semua guru dan murid sudah berkumpul di
aula berukuran 45 m x 40 m , gak kebayangkan aula saja luas segitu, gimana sama
skulnya , mending gak usah dibayangin.
Mereka sudah tidak sabar ingin menyaksikan penampilan dari
siswa-siswinya.
“Aduh, Steven mana sih?Semua
orang sudah berkumpul.Dia itu lupa atau gimana sih?”
“ Gimana nih, waktu pementasan
mau dimulai?”kata Doni
“Iya, Steven mana sih gak
bertanggung jawab.”ucap Dimas
“Gimana ini Jum, kita harus
memulai sekarang.”kata Rizal
“Iya gimana nie, masak kita
harus ngebatalin semua ini.”kata Niken
“Ya udah, Rizal kamu yang jadi
Romeonya, kan kamu sering ganti’in Steven waktu gak datang latihan. Gimana ?mau
ya, please demi kita bersama.”pinta Juminten
“Ehm, terus yang ganti”in peran
aku gimana?”
“Kan peran kamu jadi pohon,
biar aku saja!”kata Juminten yakin
“Ya sudah, aku mau.”
“ Ayo temen-temen , kita harus
semangat”ujar Susi
“Biasmilahirahmanirahim,
Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Kawin Lagi.”kata mereka bersama.
Sementara mereka sibuk tampil ke panggung, kita kembali ke
Steven.Dirumah Steven malah masih tidur. Udah gitu tidurnya kayak kebo yang
susah dibangunin. Dirumahnya tidak ada siapa-siapa , hanya ada dia sama
Marsella. Ia ketiduran, maklum habis begadang lihat bola Indonesia Vs Korea
Selatan. Tiba-tiba Marsella naik ke tempat tidur Steven dan tak sengaja
Marsella pipis di baju Steven.
“Hoam, emm bau apa sih ini?Kok
basah bajuku.”
“Meong,…!”ujar Marsella
Steven
langsung bangun, ia berkata, “Ahh, Marsella. kok aku dikencingin sih, bau lagi.!” Ia melihat kearah jam dinding.
“Hah, Gaswat.Dramanya, aku
ketiduran.Aduh gimana nie, Juminten pasti marah.”
Steven pun bergegas ke sekolah, dengan metode langkah kaki
seribu . Tanpa, menyadari ia pergi ke
sekolah hanya pakai baju dan celana pendek alias Kolor berwarna pink dengan
gambar Hello Kitty di depannya.
(Kembali ke panggung)
Mereka mulai memerankan posisinya di atas panggung megah
itu.Alunan music yang berpadu dengan acting mereka yang luar biasa menimbulkan
suasana yang bagus dan terlihat nyata.Waktu pun terus berputar, dan akhirnya
pementasan pun selesai. Para penonton
bertepuk tangan dengan meriah dan mereka senang akan tampilan drama musical
itu. Penonton pun mulai meninggalkan aula.Suasana pun mulai sepi.
“Alhamdulillah, acara kita
sukses teman-teman.”kata Doni bangga
“Iya, terima kasih semua.Kita
bagus, kita kompak dan kita sukses.Rizal makasih banyak ya, tanpa ada kamu
mungkin kita batal drama musikalnya.”kata Juminten senang
“Iya sama-sama. Kita kan
teman”ucap Rizal sambil tersenyum
“Iya, ini juga berkat kamu,
Jum.Kamu sutradara handal.”puji Doni
“Iya, betul.Naskah Fitri yang
bagus ditambah sutradara yang handal.Sipph abiz.”ucap dimas
“Iya, kita semua main bagus!.”
Kata Mila yang saat itu berada disebelah Juminten.
“Ya udah ya, teman-teman aku
pulang dulu. Badan aku capek semua. Yuk Fit!”ajak Susi
“Ya udah, aku juga mau pulang.
Yuk Dim, Zal, ”ucap Doni
Setelah mereka semua pulang, tinggal Juminten yang ada
disitu untuk merapikan barang-barangnya, datanglah Steven dari pintu aula
dengan berlari.
“Ahh, !”teriak Juminten sambil
tutup mata
“Ada apa Jum??”tanya Steven
“Ihh, Steven porno.!Itu kamu
gak pakai celana.”
Steven melihat kearah bawah, dengan sigap dia langsung
menutupinya dengan kain bekas drama pementasan yang ada disebelahnya. Mukanya
merah kayak orang yang lagi nahan BAB yang gak keluar-keluar.
“Maaf, kamu bisa buka mata
sekarang.”kata Steven malu.
“Ehm, hehehe …!”Juminten
tertawa kecil
“Kenapa kamu malah
tertawa??”tanya Steven heran
“Habis kamu gak pakai celana,
Cuma pakai kolor.Hahahaha”jawab Juminter tertawa terbahak-bahak.
“Hehehehe, mmm dramanya tadi
gimana?Maaf aku telat.”
“Hem, bahkan drama udah selesai
setengah jam yang lalu.Kenapa baru datang sekarang kamu gak tanggung jawab
banget sih??”
“Aku tadi ketiduran.!”
“Gara-gara kamu gak datang,
drama kelas kita itu bisa berantakan.Untung ada Rizal, yang mau gantikan peranmu.”kata
Juminten ketus
“Ya baguslah,..untung masih
bisa terselamatkan.”kata Steven lega
“Kamu tuh ya, kita semua panic
gara-gara kamu gak datang. Gak bertanggung jawab.”
“Eh, aku bertanggung jawab
tau!Buktinya nie aku datang sampai-sampai aku gak pakai celana!”
“Kamu tuh, masih saja bisa
bersikap seperti itu, gak mau minta maaf malah ikutan marah-marah.”
Juminten pun pergi meninggalkan Steven, dengan kesal
melihat sikap Steven yang seperti itu. Steven hanya terdiam tanpa meminta maaf,
ia hanya mrasa ia sudah bertanggung jawab dan tak perlu meminta maaf.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar