Selasa, 28 Oktober 2014



  BAB 2 " TRUE LOVE"        


                       Liburan panjang semester kedua dimulai, hal yang paling ditunggu-tunggu oleh para siswa, karena bagi mereka liburan adalah menghentikan sejenak pelajaran yang melilit mereka dan melepas beban karena banyak tugas.Mungkin semua siswa pada berlibur entah pergi ke rumah nenek, pergi ke tempat wisata atau diam saja dirumah.Tidak dengan Steven, dia sedang menunggu mamanya dirumah sakit.Sudah seminggu mamanya dirawat di rumah sakit akibat penyakit sesak napas yang dideritanya selama 2 tahun lebih. Steven selalu menjaganya dengan kasih sayang, apapun yang beliau inginkan ia penuhi. Siang malam tak henti-hentinya ia menunggu di rumah sakit.
“Steven, ..Steven,.. !”panggil mamanya dengan suaranya lirih dan lemas yang sedang terbaring ditempat tidur.
“Mama, ada apa Ma? Mama mau apa? Makan?Minum?”jawab Steven penuh perhatian yang saat itu ada disamping tempat tidur mamanya.
“Tidak sayang, mama mau tanya Papa kemana?”
“Itu, tadi Papa keluar sebentar tebus obat di Apotek.”kata Steven bohong
“Owch iya…!”
“Ma, mama makan dulu ya?Ini Steven tadi beli bubur ayam. Mama makan ya?”pinta Steven sambil mengambil bubur ayam yang letaknya di meja kecil sebelah tempat tidur mamanya.
“Ndak ah sayang, mulut mama terasa pahit dan mama sudah kenyang.”
“Tapi Ma, mama dari tadi pagi belum makan. Kalau mama gak makan gimana mama mau cepet sembuh. Mama makan ya?! Steven mohon.”pinta Steven lagi
“Ehm, ya sudah. Mama mau makan.”
“Ini ma,..!”kata Steven senang.
          Sedikit demi sedikit Steven menyuapi mamanya dengan ketelatenan dan rasa pedulinya. Steven hanya menahan rasa sedihnya, ia tidak mengatakan sejujurnya. Bahwa Papanya tidak pergi ke Apotek.Steven tak tahu Papanya pergi entah kemana sejak kemarin malam.Dalam hatinya ia berkata, “Maafin aku Ma, Steven berbohong sama Mama tentang Papa. Ini semua demi kesembuhan Mama.” Waktu pun bergulir dengan cepat, akhirnya mamanya pulang ke rumah dan suasana rumah pun kembali seperti biasanya. Suasana di rumahnya kembali ramai, mamanya sudah kembali pulih , Steven yang selalu tak mau ngalah sama kakaknya dan masih banyak lagi.
Sudah hampir dua minggu ia tak berkomunikasi dengan Juminten. Akibat peristiwa pementasan drama musical pada ulang tahun sekolah mereka. Sampai sekarang Steven tak mau meminta maaf atas kesalahannya, ia masih bersikukuh dengan perkataannya bahwa dia tak bersalah. Hari ini ia akan mencoba untuk sms Juminten. Ia sangat merindukan sosok Juminten. Setiap ada kesusahan Jumintenlah yang selalu ada disampingnya, menemaninya dan selalu menghiburnya.Steven sms berkali-kali tak kunjung di balas oleh Juminten.Ia galau… Merenung sendiri di kamar dengan wajah melas seperti orang yang baru saja dipecat dari kerjaannya.Berbaring di atas tempat tidur, melihat langit-langit kamar dan memikirkan sesuatu.
“Aduh , kenapa sih Juminten gak mau balas sms aku? Apa dia masih marah ya?? Aku galau tanpamu”katanya
          Waktu pun bergulir, libur semester sudah berakhir.Tahun ajaran baru pun dimulai. Semu serba baru, kelas baru, buku , tas, sepatu baru, teman baru kecuali wajah tetap yang lama. Steven dan teman-temannya yang lama tetap satu kelas, ia juga tetap satu kelas sama Juminten. hanya saja kelasnya berubah.Mulailah para siswa disibukkan lagi oleh tugas-tugas yang menumpuk, ulangan-ulangan dan kesibukan lainnya.Begitu juga dengan Steven, paginya dimulai seperti biasanya.Berangkat sekolah dengan mobil merah kesukaannya.
“Hari ini sudah masuk sekolah, aku akan ketemu lagi dengan Juminten.Moga dia sudah tak marah lagi sama aku!”pinta dalam hati
          Sesampainya di sekolah, ia langsung menuju kelas barunya yaitu kelas XII yang terletak di depan kantin bersebelahan dengan rung OSIS. Di perjalanan, ia tak sengaja melihat Juminten lagi duduk di taman bangku sekolah yang sedang asyik membaca buku. Steven pun  menghampirinya dan duduk disebelahnya.
“Hai… lagiapa??tanya Steven
          Juminten pun hanya diam tak menghiraukan dan dia terus membaca bukunya.Ia masih kecewa dan marah akan kejadian waktu drama musical tersebut.
“Hai, kamu kok diam saja??Kamu masih marah ya?Ya deh, aku minta maaf.”kata Steven melas
“Hemm!” ucap Juminten, ia berdiri dan pergi meninggalkan Steven sendirian. Ia tak menanggapi apa yang dikatakan Steven.
“Eh, kamu mau kemana?Ehmm, dia masih marah.Apa aku salah ya? Aku harus minta maaf.”katanya sungguh-sungguh.
          Di sisi lain ada Dimas yang melihat Juminten dan Steven sejak tadi. Ia pun menghampiri Steven.
“Cie yang lagi marahan ya. Kasihan banget sih ??”kata Dimas
“Ngapain kamu kesini!”kata Steven ketus
“Gimana rasanya dicuekin, sakit kan? Makanya intropeksi diri.Sifat kamu itu loh gak pernah berubah.Gak bertanggung jawab lagi, buktinya kamu malah gak datang dalam pementasan drama kemarin, untung saja kita bisa atasin.”
“Eh, masudmu apa bilang kayak gitu?”
“Fikir saja sendiri!Kamu kan pintar, masak gitu saja tak tau!”kata Dimas sambil tersenyum sinis
          Dimas pun meninggalkan Steven, Steven hanya terdiam membisu. Ia berfikir, memang perbuatannya salah. “Apa yang dikatakan Dimas memang benar, aku tak bertanggung jawab, karena aku mereka hampir saja malu. Aku juga buat Juminten kecewa.”kata Steven dalam hati. Ia bertekad untuk meminta maaf pada Juminten.
          Jam pelajaran pun dimulai, Steven hanya memandang Juminten yang duduk didepan bangku guru. Ia tak putus memperhatikan Juminten, dari kejauhan.
“Eh, Jum kamu dilihatin sama Steven terus tuh!”kata Mila teman sebangku Juminten yang dari tadi memperhatikan Steven.
“Iya ta?!Biarin saja.”kata Juminten cuek
“Aku perhatikan, kayaknya dia menyesal deh. Lebih baik kamu  maafin dia?”
“Udah ah, jangan urus dia. Aku udah terlanjur kecewa. ”
“Tapi…!!”
“Udah, itu loh Pak Irwan mau jelasin sesuatu.”
“Anak-anak, bapak ada pengumuman buat kalian bahwa ada olimpiade kimia, matematika dan fisika tingkat Provensi yang akan diadakan di Universitas Indonesia. Yang mau berminat silahkan daftar ke bapak.”kata Pak irwan
          Semua siswa berantusias untuk ikut olimpiade tersebut.
“Pak, itu langsung tes di UI ?Atau gimana?”tanya Rizal
“Begini, nanti akan diseleksi terlebih dahulu di sekolah, semua boleh ikut seleksi tersebut. Nanti akan dipilih satu untuk perwakilan dari sekolah kita. Mengerti?”
“Owch iya.. !”
“Apa ada pertanyaan lagi anak-anak?”
Disisi lain
“Jum, kamu ikut ya? Kamu kan pintar dalam matematika? Pasti kamu bisa lolos seleksi dan mewakili sekolah kita?”saran Mila teman sebangku Juminten
“Eh, gimana ya??Aku tuh gak begitu yakin.”jawab Juminten ragu.
“Ayo kamu pasti bisa.Aku selalu mendukungmu.Ikut ya?Aku juga ikut kok tapi yang Fisikanya.Nanti kita bisa belajar bareng”kata Mila yakin.
“Emmmm, iya deh aku ikut!.”
“Hehehe, bagus..!”kata Mila senang
“Owh, iya anak-anak seleksinya akan di mulai tanggal 15 , 16, 17 Februari 2010. Untuk tesnya dilakukan di ruang Multimedia.Owch iya, Steven kamu bapak pilih, untuk ikut olimpiade kimia, tanpa tes.Jadi kamu langsung ikut ya?”
“Emm, Iya pak!” kata Steven senang
“Wah, hebat kamu di pilih langsung, tanpa ikut seleksi!”puji Rizal
“Ya iyalah, aku gitu.Aku kan udah pasti terpilih.”ujar Steven belagu
          Bel istirahat berbunyi, semua siswa pada istirahat.Juminten dan teman-temannya lagi asyik ngobrol di bangku kantin dekat pohon beringin yang rindang.Semilir angin yang sejuk menambah suasana tambah seru.Hanya Steven yang tak ada, teman-temannya menjauhinya, begitu juga dengan Juminten.
“Eh, temen-temen mau beli apa? Biar aku yang belikan heheheh, aku traktir semuanya”tanya Rizal yang pada hari itu berulang tahun.
“Ciye…ciye yang lagi ulang tahun.Selamat ulang tahun ya!?”ucap Susi
“Asyik guys, dapat makanan gratis. Perut kenyang, kantong pun tebal.Hehehehe!”sahut Doni
“Iya, mumpung aku lagi baik hati aku traktir. Jadi pesan apa?
“Aku mie ayam saja!”kata Dimas
“Yang lain?”tanya Rizal lagi
“Sama semua deh..!”kata Mila
“Eh, Aku Bakso saja, gak pakai mei putih, mie kuning, kuahnya dikit saja, gak pakai saus cuma kecap sama sambal, sambalnya yang banyak , gorengannya nambah dan pakai krupuk juga.”sahut Niken
“Hadeh, oke-oke aku pesan dulu ya.!”
          Pesanan pun sudah datang, mereka menyantapnya dengan lahab, apalagi Niken.Dia antusias banget makan Bakso yang super duper pedas, sampai wajahnya terlihat merah merona seperti babi yang siap dipanggang. Mereka bercanda, , bermain, bercerita, ngobrol pokoknya asyik. Saat mereka lagi asyik, tiba-tiba muncul Steven yang ingin bergabung.
“Hai, boleh gabung ndak?” tanya Steven. Mereka tiba-tiba terdiam membisu.Ekspresi tak suka mereka munculkan.
“Don, Zal, ayo kita pergi dari sini. Suasananya menjadi gak enak.!”kata Dimas
“Tapi… Ini,..!”ujar Rizal
“Udahlah,..!
Satu persatu dari mereka pergi.Mereka tak suka dengan Steven, tertinggal hanya Juminten.
“Hai, Empuss!”sapa Steven. Juminten hanya terdiam dan tak menghiraukannya.
“Ehm, mereka kenapa ya? Kok semuanya pada pergi ?”tanya Steven
“Pikir saja sendiri.Ya udah, aku sibuk.”kata Juminten pergi meninggalkan Steven.
          Steven hanya terdiam, dengan wajah sedih tak percaya akan merasakan hal  itu. Ia dijauhin pacar dan teman-temannya. Ia merasa kesepian , hanya ada angin dan pohon yang menemaninya saat itu.terdiam dan terdiam. Di sisi lain, dari kejauhan ada Juminten yang memperhatikannya. Dalam hatinya ia berkata, “Maafkan aku Steven, aku ngejauhin kamu. Aku terlanjur kecewa . Mungkin dengan aku menjauh darimu, kamu bisa menyadari akan sikapmu itu dan mau berubah. Aku percaya suatu saat nanti, kamu pasti bisa berubah.” Juminten merasa sedih, kasihan melihat  Steven sendirian. Tapi, ia melakukan ini agar dia mau berubah.
          Steven selain jago pelajaran kimia, dia juga jago main basket. Keahliannya itu membuat dia menjadi anggota regu dalam tim inti basket sekolah. Sepulang sekolah, ia berlatih basket dengan anggota lainnya. Tapi kali ini, karena moodnya gak enak. Ia tak mau latihan, ia hanya  duduk manis di pinggir lapangan. Sedangkan anggota lainnya berlatih dengan giat. Kak Reno melihat Steven yang santai-santai dan ia pun menghampiri  Steven.
“Eh, Steven .Latihan dong, kok kamu malah santai-santai saja. Kau tau kan , bulan depan kita ada turnamen basket. Harusnya kamu berlatih dengan giat malah santai-santai.”tegur kak Reno yang merupakan captain dari tim basket. Tubuhnya yang tinggi, wajahnya yang tampan, keahlian basketnya yang hebat membuat dia menjadi idola di sekolah itu.
“Ah, aku lagi malas dan bete’. Jangan ganggu aku !”kata Steven
“Tapi, kamu itu kan pemain inti. Kalau kamu masih gak mau latihan,  Aku akan cari anggota lain untuk ganti kamu. Kamu mau?” kata Kak Reno jengkel
“Ganti saja yang lain, aku gak peduli! Udah, jangan ganggu aku.”kata Steven cuek
“Ya udah kalau gitu.”ujar Kak Reno jengkel dan langsung meninggalkannya.
          Sepulangnya dari latihan basket, Steven tak langsung pulang.Ia mampir ke supermarket untuk membeli makanan Marsella. Di perjalanan ke supermarket, ia tak sengaja melihat papanya dengan seorang gadis yang seumuran dengannya, berambut pendek sebahu dengan pakaian rok mini di depan hotel .Mereka  berpelukan mesra. Rasa marah melihatnya, ia langsung menghentikan mobilnya. Ia turun dan langsung menghampiri papanya.
“Papa…!”panggil Steven dengan nada keras
          Papa Steven pun terkejut, ia langsung melepaskan pelukannya. Gadis itu pun, langsung pergi meninggalkan mereka.
“Papa, papa sedang ngapain dengan gadis itudi hotel ini??”tanya Steven kesal
“Emmm, itu..itu.. owch ya tadi itu client papa!”jawab Papa gugup
“Papa bohong, kalau itu client papa.Kenapa papa pelukan dengan orang itu, terlihat mesra pula!”
“Apa sih kamu itu, nuduh-nuduh papa seperti itu.Jangan ikut campur urusan Papa.Urusanmu itu, Cuma sekolah!”
“Papa itu kenapa sih jadi kayak gini. Papa tau kan mama lagi sakit. Papa malah selingkuh dengan orang itu. Papa itu gak kasihan apa sama Mama. Mama begitu sayang sama Papa. Tapia apa, papa malah seperti ini. Dasar Papa gak punya hati,!”ucap Steven marah
          Plakkkk, tangan kasar itu menampar pipi kanan Steven yang putih itu .
“Jaga ucapan kamu itu!Sudahlah, jangan urusin urusan Papa.Ngerti kamu?”kata Papa marah
Dengan tamparan itu, Steven langsung pergi.Ia sangat marah dan kecewa terhadap kelakuan Papanya. Ia melampiaskan kemarahannya dengan mengendarai mobil merahnya dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di rumh, ia langsung nyelonong masuk.
“Steven, Steven.. !”panggil Kak Dika. Steven pun tak menghiraukan panggilan kakaknya.Ia langsung ke kamarnya dengan wajah marah dan brakkk menutup pintu kamarnya dengan keras.
“Aaaaaaaahhhhhhhh, aku benci dengan semuanya! Kenapa ini semua terjadi padaku? .”teriak Steven sambil mengobrak-abrik kamarnya. Meja belajar dan tempat tidurnya berantakan, vas bunga pecah , semua barang-barangnya jatuh ke lantai. Hal tersebut, terdengar oleh kakaknya.Ia pun langsung pergi ke kamar untuk mengechek keaadaan.
“Steven, kamu tuh kenapa?Berantakin semuanya, kalau gila jangan disini.”ucap Kak Dika
“Iya Kak, Steven sudah gila. Steven sudah tak waras lagi.”jawab Steven marah
“Kamu tu, kenapa?Ada masalah? Cerita ke kakak, siapa tau kakak bisa bantu.”
“Udalah Kak, Steven ingin sendiri.”
“Ya sudah  kakak pergi. Tapi, kamu jangan kayak gini lagi.”
          Steven hanya mengangguk.Steven hanya terdiam di kamarnya. Ia tidak makan, tidak minum dari siang  sampai malam. Baginya, hidup ini sudah tak adil lagi.Ia bagai menahan beban ratusan kilogram masalah dalam pundaknya. Ia berbaring, menatap langit-langit kamarnya. Melihat Steven belum makan, Mamanya menghampirinya dengan membawa susu dan makanan yang ditaruh di atas nampan putih. Diketuklah pintu coklat itu….
“Steven,,… Steven… Sayang mama masuk ya?” panggil mamanya
          Tak ada jawaban, Steven tetap terdiam membisu.
“Steven sayang,… kamu kenapa? Ayo makan ya sayang, dari tadi pagi kamu belum makan ?ini mama sudah bawa’in makanan dan susu. Mama suapin ya!”kata mama yang duduk di sebelah Steven
“Steven, gak lapar Ma!”
“Kamu kenapa sih sayang? Ehm, kalau ada masalah bicara sama mama, jangan disimpan sendirian. ”
“Gak ada apa-apa kok Ma!”kata Steven tersenyum dan mulai bangkit dari tempat tidurnya dan duduk disebelah mamanya.
“Kalau kamu gak ada apa-apa, kamu makan ya? Mama suapin deh!”
“Gak ah Ma, Steven beneran gak lapar.Tadi juga sudah makan di sekolah.”
“Itu kan tadi, kamu makan ya sayang. Kalau kamu gak mau makan, nanti kamu sakit. Mama khawatir sayang.”pinta Mama melas
“Ehm, ya sudah Steven mau makan!Tapi mama juga makan ya, nanti gantian Steven yang nyuapin mama.”kata Steven
“Iya sayangku… !”jawab mama tersenyum
          Mamanya pun menyuapin Steven, dengan wajah yang lega dan senang.Steven mengunyah makanan itu dan memperhatikan wajah mamanya yang tersenyum pada saat itu. Dalam benaknya ia berkata, “Ma, aku sayang banget sama mama. Aku senang jika mama bisa Jika mama tau tentang papa, apa mama bisa tetap tersenyum seperti ini? Aku gak mau melihat mama sedih.”
“Eh, Steven..Kamu kenapa memandangi mama seperti itu.Apa ada yang salah dengan wajah mama?”ucap mama penasaran sambil memegang wajahnya
“Ada yang salah Ma, dengan wajah Mama.”kata Steven
“Loh emang kenapa sama wajah Mama??Bedaknya terlalu tebal ya?”
“ Salahnya, Wajah Mama cantik banget. Apalagi kalau tersenyum tambah kelihatan lebih muda.”rayu Steven tersenyum
“Ahh, Anak Mama satu ini. Bisa saja buat mamanya malu!”
“Ma?”
“Hem, Apa Steven?”
“ Mama, Mama janji ya, gak akan pernah ninggalin Steven sendirian!”
“Kenapa kamu bicara seperti itu?Tanpa kamu meminta.Mama akan selalu ada disamping kamu!”kata Mama tersenyum
“Makasih Ma, Mama sudah jadi Mama paling baik sedunia! Aku sayang Mama”kata Steven sambil memeluknya dengan erat.
“Mama juga sayang Steven!”
          Keesokkan harinya, seperti biasa pergi kesekolah.Di meja makan sudah tersedia berbagai jenis makanan. Ada roti , nasi goreng , buah, susu dan masih banyak lagi yang disiapkan oleh Mamanya.  Dimeja tersebut ada Kak Dika, Mama dan Papanya serta juga ada Marsella. Turunlah Steven dari kamarnya, ia bersiap-siap untuk bersekolah. Namun, setibanya dimeja makan.Ia tak makan dan langsung pergi ke sekolah.
“Steven sayang, kamu gak makan dulu?”tanya mama
“Gak Ma, Steven sudah gak lapar. Suasana disini gak enak apalagi ada…!”kata Steven sambil melirik sinis papanya yang sedang makan.
“Huk…huk..!”Papanya tersedak.
“Ini Pa, minum dulu!”kata Mama sambil mengambilkan segelas air.
“Ada siapa? Ada kakak”tanya Kak Dika
“Enggak kok Kak!Gak ada siapa-siapa.Ya sudah Ma, Kak aku pergi dulu.”ucap Steven sambil bersalaman dengan mamanya.
“Steven, kamu gak salaman sama Papa?”tanya Mama
          Steven tak menghiraukan, ia tetap berjalan ke depan dan pergi ke sekolah, ia masih marah kepada Papanya itu. Setibanya di sekolah, ia merasa sendiri, wajahnya sedih, tak berbicara satu kata pun. waktu gurunya mengajar, ia tak begitu memperhatikan. Kepalanya tidur di atas meja, Ia bengong, raganya di kelas tapi pikirannya kemana-mana. Ia masih tak percaya bahwa Papa nya bisa melakukan hal seperti itu. Di sisi lain, Juminten memperhatikannya, ia bertanya-tanya dalam benaknya, ada apa dengan Steven? Kenapa dia hari ini tak nampak seperti biasanya? Apa dia ada masalah? Atau dia lagi sakit?.Pertanyaan itulah yang ada dalam benaknya. Juminten begitu khawatir, ia tetap terus memperhatikannya.
“Jum…Jum..!”panggil Mila. Juminten pun tak mendengarkannya, ia tetap memperhatikan Steven.
“Jum…!” panggil Mila lagi dengan nada keras
“Eh, apa? Ada apa? Aku disuruh maju ya?”jawab Juminten gelagapan
“Ndak kok, Kamu kenapa?Kamu lagi lihatin Steven?Ciye?”ejek Mila
“Em Apa’an sih?Gak kok.”
“Alah, Jawab saja dengan jujur.Gak usah pakai bohong.”
“Em ya deh, aku memang lagi memperhatikan Steven. Dia kenapa ya, kok wajahnya pucat dan kayak sedih gitu? Apa dia ada masalah? Atau dia lagi sakit?”
“Ciye,..yang lagi perhatiaan nie !”
“Apa’an sih!”kata Juminten agak marah
“Iya deh maaf, ya menurutku sih lebih baik kamu tanya saja sama dia. Kamu hibur dia, buat dia tersenyum lagi.”nasihat Mila
“Emmmm, gimana ya?? Gak ah, aku kan lagi marah sama dia. Masak tiba-tiba care sama dia.”
“Tapi, dia kelihatan tidak sehat loh.Kamu gak kasihan?”
“Ehmm, udah ah jangan bahas itu lagi.”
          Sementara itu, Mama Steven hendak mencuci baju.Ia membereskan baju yang sudah kotor. Tak sengaja melihat, pakaian suaminya ada bercak merah di bagian lengannya.Bercak merah itu seperti bercak lipstick yang berbentuk bibir. Mamanya terkejut, dan ia langsung menanyakannya pada suaminya yang lagi duduk di teras depan rumah sambil minum kopi dan baca Koran.
“Papa, ini apa Pa? kok seperti bercak lipstick?”tanya Mama heran
“Emmm, itu ,.. itu ..emmm, itu..!”
“Jawab Pa..Ini apa?”
“Emmm, itu..itu kena saos kemarin malam. Ya itu kena saos!”jawab Papa gugup
“Gak mungkin ini saos, ini lipstick kan Pa? jawab dengan bubur Pa? eh maksudku jujur Pa?”
“Emm , bukan itu bukan lipstick!”kata Papa masih menyangkal
“Kalau ini bukan lipstick tapi saos.Kenapa bercak saus ini seperti bibir?”
“Emmm, itu..itu..!”
“Jawab Pa! Apa jangan-jangan ini bekas ciuman wanita? Jadi Papa selingkuhin Mama?”kata Mama dengan nada tinggi
“Kasih tau gak ya??”jawab Papa bercanda
“Pa, gak usah bercanda. Mama serius!”
“Papa dua rius malahan!”
“Papa…! Jawab Pa , gak usah mengalihkan pembicaraan. Papa gak selingkuh kan?”
“Ma, Papa gak selingkuh. Percaya sama Papa. Papa sangat mencintai mama mana mungkin Papa selingkuh.”
“Papa gak berbohong kan? Terus ini tadi apa Pa?”
“Gak Ma, itu Cuma saos kok! Mama harus percaya sama Papa ya? Papa sayang banget sama Mama”kata Papa sambil memeluk Mama
“Hu’um Pa, Mama sayang Papa!”
          Meskipun begitu, Mamamasih ragu. Ia tak percaya apa yang dikatakan oleh Papa. Ia akan mengikuti suaminya kemana pun ia pergi dengan sembunyi-sembunyi. Waktu itu, Papanya pergi tanpa memberitahu kemana ia pergi. Mama langsung mengikutinya. Berjam-jam ia ikuti, mengitari sebuah kota kecil di daerah Jakarta utara. Sampai akhirnya mobil Papa berhenti pada sebuah rumah sederhana, berwarna putih biru, berpagar dan terlihat sepi.Papa turun dan pergi kerumah itu, seperti ada seseorang yang ingin ditemuinya. Diketuklah pintu biru itu, perlahan pintu itu dibuka dan keluarlah gadis berambut pendek sebahu itu, ia menyambutnya dengan centil dan mesra. Begitu pun dengan Papa , ia menanggapinya dengan mesra. Ketika melihat itu semua, Mama terkejut, marah, sedih bercampur aduk rasa yang tak menentu. Ia langsung melabraknya.
“Papa, ternyata Papa selingkuh. Mama kecewa sama Papa!”
“Hah Mama……!”kata Papa terkejut sontak melepaskan pelukanya
“Papa bohong, Papa telah selingkuh.Papa gak punya perasaan.”
“Diam kamu, Ya memang benar Papa selingkuh. Papa sudah bosen sama Mama. Papa butuh sosok yang baru. Papa muak sama Mama.”
“Papa tega melakukan ini semua. Mama sayang sama Papa, tapi Papa seperti ini.”katanya sambil menangis
“Biarin, Papa sudah bosen sama Mama. Ayo kita pergi sayang, kita tinggalkan wanita tua ini!”kata Papa sambil membawa gadis itu pergi
“Papa, jangan tinggalin Mama Pa..Papa , papa..!”panggil Mama meronta-ronta dengan napas tersengal-sengal.
          Papa tak meghiraukan, ia tetap pergi dengan selingkuhannya itu, tak mempunyai rasa bersalah. Tiba-tiba napas Mama sesak , dipegang dada dengan erat, ia tak mampu untuk mengatakan satu kata pun, sesaknya semakin menjadi. Akhirnya ia jatuh pinsan.Masyarakat sekitar langsung membawanya pergi ke rumah sakit.Sementara itu disekolah, Steven lagi duduk sendiri di bawah pohon beringin samping kelasnya, dengan wajah sedih dan melamun.Datanglah Juminten yang ingin menghiburnya.
“Hai..!”sapa Juminten
“Ehh, hai juga!
“Boleh aku duduk disini”
“Owch iya silahkan,..!”
“Emmm, lagi apa?”
“Lagi santai saja!”
“Owch”      
          Ditengah obrolan mereka, tiba-tiba datanglah guru BK yang mengabarkan bahwa Mamanya masuk rumah sakit.Steven langsung pergi ke Rumah sakit. Setibanya disana , Mamanya sedang diperiksa dan masuk ruang ICU.
“Kak, gimana keadaan Mama Kak?Kenapa ini bisa terjadi?tanya Steven kepada Kak Dika yang saat itu sudah berada disana terlebih dahulu.
“Aku juga gak tau, dokter belum keluar dari ruang ICU.Papa lagi kemana sih, tak telfon gak diangkat-angkat.”jawab kak Dika bingung
“Papa gak mungkin datang, ia kan gak peduli sama Mama.”
“Hah, maksudmu apa bicara seperti itu?”
“Kak, ada sesuatu hal yang harus kakak tau.Waktu aku pulang sekolah, aku lihat Papa pelukan sama seorang cewek di hotel.”
“Apa?Apa kamu yakin?”
“Iya Kak, aku belum cerita ini sama Mama. Aku takut Mama nanti shock, Kakak janji ya jangan bilang sama Mama.”
“Jadi Papa seperti itu, Kenapa Dia tega melakukan itu.Awas saja kalau ketemu, biar aku hajar dia.”ujar Kak Dika marah
          Keluarlah dokter dari ruang ICU itu, wajahnya kelihatan menyesal .
“Dokter, gimana Dok keadaan mama saya?”tanya Steven panic
“Hmm, maaf sekali dik, Mama kalian tak bisa kami selamatkan.”
“Apa? Gak-gak mungkin, dokter pasti bercanda kan?”kata Steven tak percaya.
“Maafkan saya, ini sudah menjadi takdir yang Kuasa.”
“Apa kami bisa melihatnya Dok?”tanya Kak Dika
“Silahkan,..!
          Steven pun langsung berlari ke ruangan ICU tersebut.Tergeletaklah jazat wanita yang sangat dicintainya.Ia terbujur kaku, tak bernyawa. Wajahnya pucat, tangannya dingin. Steven hanya menangis histeris, ia tak percaya bahwa Mamanya sudah tiada.
“Mama, Ma..bangun Ma. Steven ada disini??Disamping Mama.”
“Sudahlah Steven, kita harus tetap tegar”kata Kak Dika
“Enggak Kak, Mama gak boleh pergi meninggalkan  kita. Ma, bangun Ma. Mamakan sudah janji, bahwa Mama gak akan pernah meninggalkan Steven sendirian. Ma, bangun Ma. Steven sayang sama Mama. Mama sayang Steven kan? Kalau Mama sayang Steven, Mama bangun.”
“Steven, sudah, sudah. Biarkan Mama pergi dengan tenang!”
“Aku sayang sama Mama, Mama jangan pergi, jangan pergi…”kata Steven meronta-ronta
          Pemakaman jenazah pun sudah dilakukan, Papa Steven tak datang.Ia malah bersenang-senang dengan selingkuhannya. Steven seperti terjatuh dan tertimpan tangga pula. Sudah dijauhin sama teman-temannya, Mamanya meninggal, Papanya tak pedulikannya. Keluargnya pun terbengkalai, suasana rumahnya sepi.Hanya ada dia dan kakaknya.Ia merasa bahwa hidupnya sudah berakhir.  Ia sendirian, tak ada seorang pun yang ada disampinnya.
Malam menjelang datang, suasana dirumah Steven sepi, sunyi seperti tak bernyawa. Wajah Mama yang tak terlihat lagi olehnya, tangan lembut hangatnya , senyuman penyemangatnya tak dapat lagi ia rasakan, kangen akan bawelnya, nasihatnya, kasih sayang yang tulus itulah yang dirasakan oleh Steven. Ia mengurung diri di kamarnya.
“Ma, mama sekarang lagi ngapain? Mama senang gak  disana? Aku harap mama senang disana, ada Tuhan yang selalu melindungi Mama. Ma, Steven disini kangen sama Mama. Mama kangen gak sama Steven?”ucap Steven menangis sambil memandang foto Mamanya.
          Sementara itu , mendengar bahwa Mama Steven meninggal. Juminten pergi ke rumah Steven.Setibanya disana, hanya terlihat kakaknya di ruang tamu.
“Permisi, Kak, Kak Dika?”
“Eh, ada Juminten.Ada apa?”tanya Kak Dika
“ Emm, saya turut berduka cita Kak, maaf baru bisa datang sekarang.”jawab Juminten
“Owch iya gak apa-apa kok.Makasih, kamu mau datang.”
“Emmm, Stevennya dimana Kak? Kok gak kelihatan”
“ Em, dia ada di kamarnya, dari semalem ia belum makan, ia hanya mengurung diri dikamarnya. Kakak sedih melihatnya.”
“ Emm, bolehkah saya melihatnya?”
“Oh iya, mari saya antarkan ke kamarnya.”
(Setiba di kamar Steven)
“Steven… Steven…. Ini ada Juminten yang ingin bertemu.”panggil Kak Dika
          Tak ada jawaban dari dalam kamar.Juminten pun semakin khawatir melihat keadaan Steven.
“Kak Biar aku saja yang panggil!”
“Owch iya”
“ Steven … Steven… Ini aku Juminten.Bolehkah aku masuk? Steven.. Steven..”
“Kak bilang ke Juminten.Aku lagi ingin sendiri.”kata Steven
“Tapi Steven, dia ingin ketemu dengan kamu …!”kata Kak Dika
“Udahlah Kak, mungkin Steven ingin sendiri. Ya udah Kak, lebih baik aku pulang dulu.Makasih ya Kak!”
          Pagi mulai menghampiri, sinar mentari jatuh semu pada setiap rumah di bumi, yang membawa sinar kehidupan.Berbeda di rumah Steven, yang tak ada kehidupan di dalamnya.Rumahnya tampak kotor, berantakan, seperti tak terawat lagi. Steven berangkat sekolah dengan badan lemas , tak berdaya, matanya lebam akibat semalam menangis. Dimeja makan , tak ada makanan yang tersedia. Kakaknya tak menghiraukan Steven, ia sibuk dengan urusannya. Setibanya di sekolah, iatetap termenung, tak banyak bicara. Ia juga gak begitu merespon mata pelajaran pada waktu itu. Sampai istirahat dimulai, ia hanya berdiam diri di taman belakang. Juminten yang merasa kasihan, ia pun mencoba menghiburnya.
“Hai Steven!”sapa Juminten
          Namun Steven tak menjawab, ia tetap terdiam. “Bolehkah aku duduk sini?”.Steven hanya terdiam, pandangannya kosong.
“mmm, suasana disini sunyi, sejuk, rindang. Udaranya juga segar. Memang enak berada disini. Iyakan Steven?? Ehm, Steven kamu baik-baik saja kan?”tanya Juminten khawatir
“Kenapa kamu tiba-tiba peduli?”jawab Steven
“Ehm, Aku sangat mengkhawatirkanmu.Aku takut kamu kenapa-kenapa. Kamu baik-baik saja kan? Aku turut berduka atas meninggalnya Mama kamu.”
“Owch iya , terima kasih.”
“Emmm, Owch iya. Kamu pasti belum makan kan, aku bawa sesuatu buat kamu. Ini dia nasi goreng kesukaanmu.”ujar Juminten sambil memberikan kotak nasi tersebut.
          Steven hanya memandanginya dengan tatapan tajam setajam silet.Ia terlihat begitu sedih. Ya, mengingat Mamanya dulu yang sukanya membuat nasi goreng kesukaannya.Tanpa terasa, air mata membasahi pipi putihnya itu. Ma,… Ma…Mama..!”katanya lirih.
“Kamu kenapa?Makan ya, ini enak loh!”
Tiba-tiba iya membuang kotak nasi itu ke tanah.Pyarrr, jatuhlahkotak itu, berceceran nasi yang enak itu ke tanah.Juminten pun kaget melihatnya.
“Apa yang kamu lakukan??”tanya Juminten sambil membersihkan puing-puing nasi yang ditanah
“Sudahlah, gak usah bawakan aku makanan seperti itu.”
“Hah, itu kan makanan kesukaanmu.”
“Sudahlah, jangan pernah pedulikan aku lagi.Pergi kamu dari sini. Aku gak butuh dikasihani”Ujar Steven marah
“Tapi, aku..!”
“Sudah, kalau kamu gak mau pergi, biar aku yang pergi.”Ia pun pergi meninggalkan Juminten sendiri.Iamenangis, tak percaya Steven yang dikenalnya berubah 100 derajat. Hatinya terasa sakit, seperti disayat-sayat dengan garpu tala selama 12 hari, 12 jam, 12 menit, 12 detik. Meskipun seperti itu , ia akan tetap menghibur, mengubah Steven dengan segala cara, rumus agar Steven kembali seperti yang dulu lagi.Ia berjanji akan hal itu.
Sepulang sekolah, wajahnya seperti biasa murung, murung dan murung.Ia menyetir dengan pelan sekali, semut saja menang. Ia berencana ke makam Mamanya, sebelum ke makam ia membeli bunga. Ia berhenti di toko bunga, terlihat banyak aneka ragam jenis bunga di toko itu, aromanya harum, terlihat segar dan berwarna-warni .Steven membeli bunga lili kesukaan Mamanya. Bunga itu selalu ada di kamar Mamanya, katanya bunga itu bisa buat hati Mama terasa tenang dan penyemangatnya.
Kemudian ia menuju makam Mamanya. Sesampainya disana, dengan hati senang ia berjalan menyusuri beberapa Makam.
“Siang Ma! Mama lagi apa? Mama, ehm aku punya hadiah loh buat Mama, Mama tau tidak apa hadiahnya? Pasti gak tau ya,  ini Ma!. Bunga Lili, bunga kesukaan Mama. Bunganya masih segar dan baru saja Steven beli. Aku taruh disamping ya Ma.”kata Steven
          Sejenak ia membersikan makam Mamanya itu, dengan senang , penuh kasih sayang ia membersihkannya.
“Udah bersih deh, kalau gini Mama pasti akan lebih nyaman. Iya kan Ma? .Owch iya Ma, aku punya kabar bagus Ma.Aku terpilih menjadi wakil sekolah untuk ajang Olimpiade sains tingkat Provensi Ma.Aku senang banget Ma. Aku jadi ingat dulu, waktu aku kecil , aku ikut lomba menyanyi. Mama dukung aku dengan penuh semangat. Mama yang mengajariku menyanyi, yang tadinya suaraku cempreng jadi bagus hehehe. Ma, Steven kangen sama Mama. Dulu saat Steven sendiri, Mama selalu menghibur Steven, Mama yang bisa membuat Steven kembali tersenyum. Sekarang Steven sendiri Ma. Papa sudah gak peduli lagi sama aku dan kakak  dan kak Dika sekarang, sudah sibuk dengan urusannya. Steven benar-benar merasa sendiri. Aku kangen sama Mama. Tak ada lagi sosok Mama disampingku.”kata Steven menangis  sambil memeluk makam ibunya.
          Waktu mulai larut, Steven sudah berjam-jam berada di makam Mamanya. Akhirnya ia pulang, rasa rindunya sedikit demi sedikit telah terobati. Sesampainya di rumah, suasana ramai.Terdengar pertengkaran hebat didalam rumahnya.Steven segara masuk dalam rumahnya itu.Terlihat Kakaknya sedang beradu mulut dengan Papanya.
“Papa… Apa maksud Papa? Dia itu adik aku Pa. Papa kenapa bisa berbicara seperti itu?”tanya Kak Dika
“Eh, asal kau tau.Adikmu itu bukan adik kandungmu. Mama samaPapa dulu memungutnya di depan rumah.Tak tau anak siapa dia itu, tak jelas identitasnya.”jawab Papa dengan tak mempedulikannya
“Gak Pa, itu gak mungkin. Papa bohong kan? Kenapa Papa dan Mama dulu merahasiakannya dari kami. Kalau Steven tau , perasaannya gimana?”
          Steven yang dari tadi mendengar percakapan itu, ia terkejut. Bahwa dia bukan Anak kandung dari keluarga itu.
“Apa maksud kalian?”sahut Steven
“Hah, Steven.Kamu sudah pulang?Darimana saja? Kakak khawatir loh.!”kata Kak Dika
“Udahlah Kak, Kakak gak usah mengalihkan pembicaraan. Papa, Apabenar yang Papa katakana tadi kalau aku bukan anak kandung Papa sama Mama?”tanya steven.
“Owch kamu sudah dengar ya ternyata, Ya kamu memang bukan anak kandungku.!”
“Jangan dengarkan dia Steven, dia berkata bohong. Kamu itu anak kadung Mama sama Papa, kamu juga adikku. Jangan hiraukan dia. Papa, Dika minta Papa pergi dari sini.”kata Kak Dika marah
“Eh, tanpa kamu minta. Papa juga akan pergi dari rumah ini. Lagian Papa kemari itu, Cuma mau ambil barang-barang Papa.”kata Papa pergi
“Iya, Papa pergi sana gak usah kembali lagi.”ujar Kak Dika marah
          Steven masih terdiam, ia tak menyangka. Ia hanya terkejut dan tak mampu berkata apa-apa. Hatinya lebih hancur seperti kota Hirosima dan Nagasaki yang di bom atom oleh sekutu. Hancur bekeping-keping.
“Steven, kamu tak apa-apa kan? Jangan pernah dengar kata Papa ya.Kamu tetap anak kandung dari keluarga ini.”kata Kak Dika menenangkannya
“Gak, Aku harus tanya lebih jelas ke Papa. Ya, aku harus tanya .”kata Steven buru-buru mengejar Papanya.
“Steven,…Steven… jangan kejar Papa.Semua yang dibicarakannya itu bohong.”
          Steven pun berlari untuk mengejar Papanya yang mau naik taxi.
“Papa … Papa tunggu Pa!”panggil Steven
“Ada apa sih?”jawab Papa
“Pa, Apa benar aku bukan anak kandung Papa sama Mama?”
“Aduh , Papa tadi itu sudah bilang kan. Kamu itu bukan anak kandung Papa.Udah Papa harus pergi, ganggu saja.”
“Tunggu Pa, terus siapa ayah dan ibu kandungku Pa? dimana mereka?”
“Mana saya tahu, itu bukan urusanku.Udah Papa harus pergi.”ujarnya pergi naik taxi
“Apa? Jadi aku benar bukan anak kandung Mama sama Papa. Tuhan apa salahku? Kenapa kau menghukumku seberat ini?”
          Awan berubah menjadi mendung, petir menyambar dengan suara dasyatnya itu. Rintik-rintik air hujan turun membasahi seluruh kota itu. Semakin deras air hujan itu. Steven hanya menangis dan ia duduk terdiam membisu membiarkan air hujan menguyur tubuhnya itu. Lama kemudian , ia memutuskan pergi ke makam Mamanya.
“Ma, Mama kenapa selama ini gak jujur sama Steven? Kenapa Mama gak mengatakan bahwa Steven bukan anak kandung Mama? Heh kenapa Ma?Steven ini anak siapa Ma?Hati Steven sakit banget Ma.Aku sedih banget, kenapa ini terjadi padaku?Apa salahku? Kenapa aku harus merasakan hal sepedih ini?”katanya merintih dan duduk di sebelah makam Mamanya
          Sementara itu, Juminten datang ke rumah Steven.Ia masih terus berusaha untuk menghiburnya. Tapi sayang Steven tak ada di rumahnya.Kak Dika menceritakan semua kejadian malam itu pada Juminten.Ia langsung menuju ke Makam Mama Steven. Ia tahu bahwa Steven pasti ada disana, karena setiap hari ia diam-diam mengikuti Steven. Hujan semakin deras, petir menyambar dengan kerasnya.Juminten semakin khawatir, takut terjadi apa-apa terhadap Steven.
“Ma, Steven capek Ma. Steven ingin ikut Mama. Steven kangen sama Mama. Aku harus berbuat apa Ma?.”ucap Steven memeluk makam Mamanya
          Berhentilah mobil Juminten.Ia langsung menghampiri Steven dengan membawa payung kuning bergaris - garis merah. Ia berjalan menyusuri makam demi makam dengan diam-diam. Sampailah ia disebelah Steven. Ia memayungi Steven , tanpa Steven sadari.Ia melepaskan pelukannya, ia akhirnya menyadari ada seseorang yang disampingnya.
“Juminten….!”ucap Steven sambil berdiri terus memandangi Juminten dengan berkaca-kaca di matanya
“Steven….!”kata Juminten seraya ikut memandang balik wajah Steven. Ia tahu pasti hatinya hancur mendengar kalau ia bukan anak kandung Mamanya, Mama yang selalu ia sayangi dan cintai.
“Apa kau baik-baik saja?”tanya Juminten
          Steven hanya terdiam. Tiba-tiba ia memeluk Juminten dengan erat dan menangis dipelukan itu.
“Kau pasti lelah kan?”tanya Juminten
“Iya, sedikit!”jawab Steven tetap memeluknya dengan erat.
“Aku mengerti, apa yang kamu rasakan!Menangislah jika itu membuatmu merasa lebih baik.”kataJuminten sambil menepuk-nepuk punggung Steven
Ia menangis begitu derasnya. Rasa sedihnya ia keluarkan sepenuhnya. Rasa sedihnya sedikit demi sedikit hilang.Malam pun semakin larut.Hujan pun sudah tak mengeluarkan air matanya.
“Sudahlah, ayo kita pulang.Kakakmu sudah khawatir.”kata Juminten
“Iya!”
          Akhirnya Steven pulang.Hatinya sedikit merasa lega.Juminten telah berhasil menyuruhnya pulang.Keesokkan harinya, tepat di hari minggu.Semua sekolah pada libur.Hari minggu dimana semua anak pada istirahat untuk menenangkan sejenak fikirannya terhadap pelajaran.Pagi-pagi sekali Juminten pergi kerumah Steven. Dimana ia membawa banyak makanan dan minuman yang ditaruh di garasi mobil. Juminten mengajak Steven ke suatu tempat.Tempat yang bisa membuat kita merasa senang.
“Kita mau kemana?”tanya Steven
“Sudahlah, pasti kamu akan merasa jauh lebih baik.Ikut saja!”jawab Juminten tersenyum
          Tibalah mereka di rumah agak besar. Didepannya terdapan tamanyang luas ditumbuhi banyak aneka macam bunga. Disitu juga terdengar suara-suara anak-anak kecil yang sedang asyik bermain ayunan, petak umpet dan lain-lain.Dengan senangnya mereka bermain.Ya, panti asuhan yang mereka berdua kunjungi.
“Kamu lihat mereka. Mereka begitu senang bermain kan?.Mereka seperti tak mempunyai beban dalam hidup mereka.Padahal dalam hati kecil mereka, pasti mereka sangat merindukan orang tua, kasih sayangnya.Tapi mereka tetap semangat dalam menjalani hidup ini. Begitu juga yang harus kamu lakukan , tetaplah semangat dan raih semua impianmu. Jika kamu berhasil, pasti Mama kamu disana bangga sama kamu.”kata Juminten sambil memandangi mereka dari kejauhan.
“Iya, kamu memang benar. Melihat keceriaan mereka, membuatku ikut senang”kata Steven tersenyum
“Kakak …!”teriak Deva seorang anak berambut hitam, berkulit putih dan mempunyai lesung pipi di sebelah kanan. Ia berusia 5 tahun. Ia tak mampu untuk berjalan sejak lahir. Kursi rodalah yang menjadi kaki buatnya.
“Owch  Deva, gimana kabarnya sayang? Lama kakak gak berkunjung kesini.”jawab Juminten sambil jongkok mengelus-elus rambutnya dengan penuh perhatian
“ Deva baik-baik saja kakak cantik. Deva kan kuat.”
“Hehehe, eh ini kakak kenalin sama teman kakak. Namanya kak Steven.”
“Hai Deva….. Aku kak Steven.”kata Steven tersenyum
“Hai Kak Steven! Aku Deva.Ehm, Kak Steven lagi sedih ya? Kok mukanya terlihat sedih, jangan sedih kak nanti gantengnya hilang loh! ”canda Deva
“Deva, kamu masih kecil. Tapi kamu bisa membuat Kakak tersadar akan suatu hal. Deva, kakak  gak sedih kok,  malah kakak senang bisa ketemu dan kenalan sama Deva, anak yang kuat.”
“ Owch, iya dong Deva.Kakak cantik?? Ayo main lempar bola sama Deva. Ayo Kak!”ajak Deva
“Ah Deva gak asyik, masak yang diajak cumin kakak cantik, aku gak diajak?Aku marah loh!”tanya Steven kesal
“Kak Steven marah, nanti cepat tua loh!.Kakak juga boleh ikut kok!”kata Deva
“Nah gitu dong!”kata Steven senang
          Mereka begembira bersama, melepaskan sejenak beban mereka.Terlihat kegembiraan luar biasa, tak terlihat kesedihan pun dalam benak Steven.Malam pun tiba, waktunya Steven dan Juminten pulang. Sebelum pulang ke rumah mereka berhenti membeli es krim dan duduk ditaman dekat panti asuhan tersebut .Hembusan angin malam membuat suasana terlihat romantis.Rembulan mulai terlihat, udara malam yang  dingin.
“Heem, dingin ya?Hmmmmm!”kata Juminten sambil mengosok kedua tangannya
“Em, ini pakai jaketku!”kata Steven sambil memakaikan jaketnya
“Makasih ya!”
“Juminten,…..!”
“Ada apa?”
“Makasih ya, untuk hari ini.Kamu sudah membuat aku merasa senang.”kata Steven tersenyum
“Iya sama-sama.Kamu senang, aku juga ikut senang. Jadi apapun masalah yang kita hadapi , jangan pernah berputus asa. Tetap semangat dan sabar  dalam menjalaninya. Oke… ganbatte!”ujar Juminten penuh semangat.
“Hehehehe, . .Makasih ya, kamu selalu ada buatku!”kata Steven sambil tiba-tiba memeluk Juminten.
“Heem, aku akan selalu ada untukmu.!”jawab Juminten tersenyum
“Juminten….!”
“Heem..!”
“Dapatkah aku benar-benar menjadi kuat?Apakah aku bisa menerima semua ini?”
“Kamu sudah kuat, kamu mampu bertahan.Hanya saja kamu tak menyadarinya.Tetap semangat, apapun yang terjadi, kamu tak perlu takut. Aku selalu ada disisimu”
          Steven tersenyum lega, ia mempunyai seseorang yang begitu perhatian dan sayang terhadapnya. Ia mulai menyadari, ia harus tetap semangat dalam menjalankan hidupnya.
“Juminten, aku minta maaf ya!”ucap Steven sambil melepas pelukannya
“Minta maaf, buat apa?”tanya Juminten heran
“Ya, saat pementasan drama musical.Aku datang terlambat, aku mengecewakan semuanya.Maafkan aku ya?”
“ Owch masalah itu? Mmmmmm, Maafin enggak… Maafin Enggak… Maafin enggak…!”kata Juminten  sambil ngitung kancing bajunya
“Maafin ya?Aku benar-banar menyesal. Aku akan merubah semua sikap burukku itu. Aku janji mau bertanggung jawab.”kata Steven memelas
“Mmm, sebetulnya itu permasalahan yang sulit.Aku tak yakin bisa maafkanmu?Maafin gak ya?”kata Juminten berfikir sambil menaruh telunjuk tangannya ke arah dagu.
“Ayo maafin dong, aku janji besok aku juga akan meminta maaf ke teman-teman semuanya.”
“Hemmm, Iya aku maafin kok.Dari dulu aku sudah memaafkanmu.”ujar Juminten tersenyum
“Hah beneran ? Makasih empussku….!”
“Sama-sama Dophiku…!”jawab Juminten tersenyum siphu.
“Empuss, coba kamu lihat bintang dan bulan yang disana? ”(menunjuk bintang dan bulan dilangit)
“ Iya, emang kenapa?”
“Mmmm, disitu ada banyak sekali bintang bahkan berjuta-juta bintang.Dan bintang tersebut selalu berada di sisi bulan. Tapi lihat bintang kecil itu, iayang terdekat dan paling bersinar dari semuanya.Kamu tau apa artinya?”
“ Ehmmm, enggak tahu. Emang apa artinya? ”kata Juminten bingung
“Begini, kamu aku ibaratkan bintang kecil itu dan aku sebagai bulanya.”
“Loh kok bisa begitu?”
“Iya, karena kamu selalu ada disamping aku ,saat aku sendiri, sedih, maupun bahagia. Serta saat aku dijauhin teman-teman dan kamu selalu menyemangatiku, selalu bisa buat aku tersenyum. Makasih sekali lagi.!”
“Emmmm, aku melakukan itu semua karena aku sayang sama kamu, aku peduli.!”
“Akujuga sayang sama kamu.”
          Malam menjelang larut, mereka memutuskan untuk pulang kerumah.Keesokkan harinya, Steven sudah mulai kembali sepeti dulu.Ia sudah tak bersedih lagi. Ia memulai hidup barunya tanpa Mama yang ada disisinya lagi. Iabersemangat untuk sekolah. Sikapnya yang dulu sombong, pelit , angkuh, tak bertanggung jawab sedikit demi sedikit hilang. Hidupnya sekarang berubah 180 . Hidupnya penuh dengan kakak, teman dan kekasih yang sayang padanya. Setiap hari sepulang sekolah, ia selalu mengunjungi makam mamanya.
“Mama, Ma aku senang sekali. Hidupku sudah tak sendirian lagi, semua temanku sudah mau menerimaku .Mereka mau berteman denganku lagi. Dan juminten ia selalu ada untukku, ia yang membuat aku tersadar atas semua ini. Andai mama ada disini, pasti kehidupanku bertambah lengkap.”kata Steven
“Sudahlah, meskipun Mamamu tidak ada disini ,tapi beliau selalu ada dihatimu..!”sahut Juminten tersenyum
“Iya, beliau adalah Mama terbaik didunia ini.!”